Showing posts with label Books. Show all posts
Showing posts with label Books. Show all posts

July 12, 2016

Review World Without End I (Dunia Tanpa Akhir)

Penulis : Ken Follett

746 Halaman.

Empat orang tokoh utama. Caris, Merthin, Gwenda, dan Ralph. Tapi, proporsinya lebih banyak menceritakan tentang Caris. Lebih tepatnya tokoh utama di buku ini adalah Caris.

Buku ini menceritakan tentang sebuah kota di Inggris yang bernama Kingsbridge di mana Gereja Katedral merupakan pusat dari pemerintahan. Semua warga kota tunduk pada peraturan Gereja dan Kepala Biarawan atau Pastor sebagai pemimpinnya.

Caris anak seorang saudagar wol kaya di Kingsbridge (Edmund Wooler) yang juga merupakan ketua dewan serikat paroki. Caris menentang kekuasaan Gereja yang menurut Caris agak konyol. Banyak hal yang bertentangan dengan prinsip Caris, karena ia berpikir Logic dan Cerdas. Caris merasa tidak bisa tinggal diam dan hanya berpasrah dengan cuma berdoa meminta pertolongan Tuhan ketika sakit. Ia merasa harus melakukan sesuatu yang walaupun sederhana tapi tepat, seperti yang dilakukan Mattie. Mattie mencampur berbagai macam ramuan tumbuhan untuk menyembuhkan orang-orang yang terbukti memang ampuh menyembuhkan, tapi orang-orang memfitnahnya dengan mengatakan ia seorang bidaah atau penyihir. Ketika mamanya Caris meninggal saat Caris masih kecil, Caris bercita-cita menjadi dokter agar bisa menyelamatkan orang-orang yang sakit. Tapi, ternyata seorang wanita di Kingsbridge tidak bisa menjadi dokter. Hanya laki-laki yang bisa. Sedangkan pada saat sakit, satu-satunya cara yang bisa digunakan oleh para biarawan dan biarawati selain memohon kesembuhan pada Tuhan, mereka hanya mengeluarkan darah kotor dari tubuh pasien yang terbukti tidak bisa menyembuhkan.

Caris mempunyai prinsip bahwa menikah itu adalah hal yang tidak pernah terpikirkan olehnya. Berbeda dengan kekasihnya Merthin, ia mempunyai keinginan menikah dengan Caris. Caris merasa tanpa menikah dengan Merthin pun, dia merasa sudah bahagia dan Caris tidak mau menjadi budak. Jaman dulu memang seorang istri tunduk kepada suami. Mungkin sekarang sudah tidak begitu. Atau masih? Entahlah. Menurut saya, istri memang harus menghormati suami, tapi bukan berarti harus tunduk dan menjadi budak suami. Caris ingin bebas, melakukan apapun yang membuatnya bahagia. Bahkan, ketika ia hamil (anaknya Merthin), Caris mengambil keputusan untuk aborsi. Setelah melakukan aborsi, Caris menolak menjalin hubungan dengan Merthin lagi karena mereka mempunyai pemikiran dan prinsip yang berbeda. Caris tidak ingin menikah sedangkan Merthin mau menikah.

Merthin, Pintar dan seorang ahli kayu di Kingsbridge. Ayahnya mantan prajurit tapi karena satu dan lain hal, ayah dan keluarganya menjadi tanggungan biara dan hidup melarat. Tapi pada akhirnya, Merthin mampu memperbaiki keadaan keluarganya. Pada awalnya saya tidak menyukai Merthin. Apalagi waktu ia digoda Griselda, dan akhirnya ia tidur dengan Griselda hanya karena dirayu. Padahal, saat itu ia sedang pacaran dengan Caris. Pada saat Caris mengetahui hal itu tentu saja ia marah dan kecewa, tapi dia tetap memaafkan Merthin. Merthin dijebak, Griselda dihamili oleh mantan pacarnya yang kabur dan memaksa Merthin untuk menikahinya. Merthin mau bertanggungjawab menikahi Griselda tadinya, untungnya tidak jadi setelah semuanya terbongkar. Pada masa Merthin sudah putus dengan Caris, Merthin setiap hari ke rumah Elizabeth. Cantik, tapi ternyata Merthin tidak menyukai Elizabeth walaupun Elizabeth mencoba merayu Merthin dengan telanjang di depan Merthin, Merthin tidak tergoda lagi. Dia hanya menginginkan Caris yang sebenarnya tidak secantik Elizabeth.

Gwenda adalah sahabat Caris sejak kecil. Ia anak seorang pencuri yang bernama Joby dan benci dengan ayahnya yang sejak kecil memaksanya untuk mencuri demi kelangsungan hidup. Sampai akhirnya ketika ia remaja, Joby menjualnya dengan laki-laki dan membarternya dengan sapi. Atau kambing? Kuda? Lupa, hehe. Gwenda berhasil kabur dan memutuskan untuk angkat kaki dari rumah dan memutuskan hubungan dengan Joby. Gwenda menyukai seorang laki-laki tampan di desanya, Wigleigh. Nama pemuda itu Wulfric. Ia anak orang kaya yang mempunyai beberapa ekar tanah. Oia, Gwenda itu jelek (penulis tega ya dengan Gwenda, lol). Sudah miskin dan jelek, mana mungkin Wulfric yang kaya dan tampan bisa menyukai Gwenda. Wulfric  menyukai Annet yang cantik yang juga kaya dan bahkan mereka sudah bertunangan. Ayah, ibu dan kakak laki-laki Wulfric meninggal dalam bencana besar runtuhnya jembatan Kingsbrisge yang memakan banyak korban. Lucunya, karena Wulfric belum cukup umur, tanah milik keluarganya tidak bisa menjadi miliknya dan dialihkan ke orang kaya yang lain yang mampu membayar pajak waris dan mampu membayar petani untuk membajak sawah. Sampai putusan itu diberlakukan, Gwenda dengan setia menemani Wulfric. Bahkan ia membajak sawah milik keluarga Wulfric tanpa dibayar karena saat itu Wulfric tidak mampu membayar Gwenda (Gwenda hanya dibayar dengan makan dan tempat berteduh di lumbung padi milik keluarga Wulfric). Gwenda berharap mendapatkan perhatian Wulfric yang ternyata tidak berhasil.

Pengorbanan Gwenda tidak berhenti disitu, dia membujuk Ralph, tuan tanah yang baru diangkat dari Earl Roland yang notabene-nya si Ralph ini adiknya Merthin. Tapi, Merthin dan Ralph sangat berbeda. Ralph itu kejam dan bekerja sebagai ksatria Earl Roland sebelum akhirnya diangkat jadi Tuan Tanah Wigleigh. Sebagai pembalasan dendam, Ralph memberikan tanah milik keluarga Wulfric kepada Perkin, ayahnya Annet (Wulfric pernah mematahkan hidung Ralph, saat Ralph masih menjadi ksatria Earld Roland karena ia menggenggam buah dada Annet –yang sebenarnya Annet tidak marah Ralph melakukannya). Gwenda menemui Ralph, dan membujuk Ralph untuk memberikan tanah itu kepada Wulfric. Ralph memanfaatkan situasi dan meminta Gwenda tidur dengannya. Coba tebak apa yang terjadi? Gwenda akhirnya tidur dengan Ralph demi Wulfric. Pada akhirnya, Ralph mengingkari janjinya pada Gwenda dan tanah keluarga Wulfric menjadi milik Perkin yang serakah.

Annet akhirnya menikah dengan Billy Howard dan Wulfric patah hati. Walaupun Wulfric mengetahui bahwa Annet itu materialistis dan hanya menginginkan kekayaannya, Wulfric tetap menyukai Annet. Gwenda mengambil kesempatan dan merayu Wulfric dengan telanjang di depan Wulfric. Yah begitulah akhirnya mereka setiap malam tidur bersama dengan status tidak jelas. Gwenda berharap Wulfric akan menyukainya, padahal Wulfric hanya memuaskan nafsunya saja.

Pada akhirnya, Gwenda hamil. Ketika ia memberitahu Wulfric, Wulfric langsung mengajaknya menikah secara resmi dan meminta pekerjaan pada Perkin yang dibencinya demi kelahiran anaknya. Hanya ini yang membuat saya respect dengan Wulfric. Dia mau bertanggungjawab. Padahal, sebenarnya itu anaknya Ralph tapi Wulfric tidak mengetahui hal itu. Walaupun sudah nikah, anaknya sudah lahir, tetap saja Wulfric itu menyukai Annet. Complicated ya, hahaha.

Sedangkan Ralph nasibnya lebih sial lagi. Dia memperkosa Annet dan dijatuhi hukuman gantung. Tapi dia berhasil meloloskan diri dan hidup sebagai pelanggar hukum dengan membunuh orang-orang saat merampok. Ketika berhasil ditangkap, Ralph akan dihukum gantung di Shiring tapi Raja membebaskan Ralph dengan syarat mengikuti Raja berperang melawan Perancis.

Cerita ini cukup kompleks karena memang buku ini keterlaluan tebalnya. Bahkan saya menulis reviewnya hingga berjam-jam. Padahal saya bahkan belum membahas tentang pembangunan kembali jembatan Kingsbridge yang mempunyai banyak halangan dan rintangan, masalah Caris dengan pamannya Anthony (mantan kepala biara yang akhirnya meninggal dan lagi-lagi lupa karena apa, hoho). Tentang Godwyn sepupunya Caris yang dengan segala cara menjadikan dirinya sebagai satu-satunya calon kepala biara menggantikan Anthony. Setelah berhasil menjabat, ia membuat peraturan konyol yang menyengsarakan rakyatnya. Sampai akhirnya ia memfitnah Caris seorang bidaah dengan dibantu oleh Phielmon kakaknya Gwenda. Juga Elfric yang notabene-nya adalah kakak iparnya yang juga berskongkol menyingkirkan Caris. Walaupun Caris bisa membela diri, tapi ia akan dijatuhi hukuman gantung jika buktinya tidak cukup kuat. Apa yang terjadi akhirnya? Caris akhirnya menjadi biarawati Novis dibantu Suster Cecilia demi menyelamatkan nyawa Caris. Caris yang selalu menentang Gereja pada akhirnya menjadi biarawati Novis. Saya penasaran apa yang terjadi selanjutnya? Kabur? Jika kabur Caris akan langsung dijatuhi hukuman mati dan akan menjadi buronan seumur hidupnya.

Dan parahnya lagi, semua itu terjadi sehari sebelum Caris dan Merthin akan menikah. Iya, akhirnya Caris memutuskan akan menikah dengan Merthin ketika Merthin mengatakan akan meninggalkan Kingsbridge. Merthin shock dengan semua terjadi serba tiba-tiba dan pada akhirnya ia melaksanakan rencananya yang semula, ia akan pergi ke Florence.

Selanjutnya? I don’t know. Akan dijelaskan di buku yang kedua. Masih banyak yang menggantung. Waktu masih kecil, Merthin pernah melihat Thomas membunuh dua orang di hutan dan Thomas mengubur sebuah surat dan meminta Merthin merahasiakannya sampai Thomas nanti mati dan membawa pastor untuk mengambil suratnya. Sampai buku pertama tamat, Thomas masih hidup dan masih menjadi biarawan sejak saat ia mengubur surat itu. Saya penasaran itu surat apa. Dan hubungannya dengan empat tokoh utama apa?

Nasib Caris? Menjadi biarawati seumur hidupnya walaupun bertentangan dengan prinsipnya? Apa yang akan dilakukan Merthin di Florence? Gwenda dan Wulfric? Anaknya Ralph? Masih banyak tanda tanya di kepala saya.

Buku ini recommended. 4 bintang dari 5^.^
Posted by: caecilia
CS.Com Updated at: July 12, 2016

January 23, 2014

Surat untuk Stiletto Book

Dear Stiletto Book,

Hi all crew Stiletto (http://stilettobook.com). Selamat ulang tahun yang ketiga, ya. Wah, saya sangat senang ketika membaca twitter @Stiletto_Book mengadakan lomba menulis dengan tema, “Surat untuk Stiletto Book.” Saya nyaris jingkrak-jingkrak lho, *edisi lebay :D Bagi saya, ikut lomba ini seperti ungkapan pribahasa “Sambil Menyelam Minum Air.” Selain bisa ikut lomba ini, juga bisa menambah postingan di blog pribadi. Lumayan kalau menang hadiahnya berupa paket buku :p. Bagi penggemar Stiletto seperti saya, tentunya lomba ini akan sayang sekali jika terlewatkan.

Mengenal Stiletto berawal dari browsing mencari penerbit untuk mengirim naskah pada awal 2013 (Padahal saat itu naskahnya belum selesai ditulis, hehe). Penasaran, saya yang memang selalu ingin tahu, berhasil mengobrak-abrik websitenya Stiletto dalam sekejab. Tak lupa saya juga membaca syarat pengiriman naskah. 

Kesan pertama saya, Stiletto itu penerbit yang unik dan berbeda dari penerbit yang lainnya. Kenapa? Karena Stiletto mendedikasikan diri menerbitkan buku-buku fiksi maupun nonfiksi yang berkaitan dengan dunia perempuan. “Strong women wear their pain like stilettos, no matter how much it hurts, all you see is the beauty of it.” 

So, if you write about the world of women, send your manuscript to stiletto!

Kenapa saya memilih Stilleto? Yang pertama adalah karena lebih efektif dan efisien. langkah pertama yang harus saya lakukan adalah hanya mengirimkan softcopy 30 halaman pertama via email. Setahu saya belum ada penerbit yang memberlakukan standar yang seperti ini. Selain itu, buku terbitan Stiletto juga bisa ditemukan di toko buku di seluruh Indonesia. Jadi, saya sama sekali tidak ragu untuk mengirimkan naskah saya pada Stiletto. Semoga nanti naskah saya berjodoh denganmu, ya. Amin.

Alasan lain kenapa harus Stiletto? Saya sangat suka dengan design cover-nya. It’s a beautiful cover. Good job buat Designer Graphic Stiletto. Ditambah dengan harga buku yang terbilang murah bila dibandingkan dengan penerbit lain. Harga yang lebih murah dengan kualitas yang oke, why not? 

Buku Stiletto yang paling berkesan buat saya adalah A Cup Of Tea For Writer karyanya Triani Retno A & Herlina P Dewi, dkk. Buku ini recommended buat dibaca. Terutama bagi penulis pemula. Setelah membaca buku ini sukses membuat saya tidak bisa berhenti menulis hingga detik ini. Buku ini menjadi semangat buat saya untuk terus berkarya. This is my favorite book. Ditambah dengan cover yang cantik dan isi yang berkualitas. Saya layak memberikan dua jempol bagi penulis dan juga tim Stiletto karena sudah menerbitkan buku bagus seperti ini. 

Saran untuk Stiletto adalah sering-sering mengadakan kuis di media sosial, lomba menulis naskah fiksi/nonfiksi, dan berbagai event lainnya. Dengan melakukan berbagai kegiatan menarik, tentunya akan membuat nama Stiletto semakin dikenal kalangan penulis dan pencinta buku. Saya berharap Stiletto bisa mengadakan lomba kreatif yang berbeda dengan lomba biasanya. Dan semoga event yang diadakan tidak hanya di kota tertentu. Tapi menjangkau ke seluruh pelosok Tanah Air. Semoga :)

Saya percaya, Stiletto ke depannya pasti akan bertumbuh pesat. Dengan umur Stiletto yang baru menginjak 3 tahun dan terbilang masih baru sudah mempunyai hati tersendiri di hati para pembaca, terutama saya sendiri. Saya salut dan memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas kerja keras Stiletto selama ini. Untuk ke depannya, Stiletto harus berjuang lebih keras lagi sehingga bisa menjadi penerbit unggul di Indonesia. 

Sekian surat cinta dari saya untukmu. Wah, panjang juga nih. Kalau saja tidak dibatasi kurang lebih 600 kata, mungkin saya bisa menulis berlembar-lembar :p. Keep fighting Stiletto!

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba menulis surat untuk Stiletto :)
Posted by: caecilia
CS.Com Updated at: January 23, 2014

November 18, 2013

Cara Kirim Naskah ke Penerbit

Berhubung ada yang menanyakan cara menerbitkan sebuah naskah, saya putuskan untuk sekalian posting di sini supaya semuanya bisa baca. 

Hal pertama yang harus kamu lakukan adalah menulis naskahnya terlebih dahulu. Setelah naskah kamu selesai, tinggal dipilih mau dikirim ke penerbit yang mana. Ada Gramedia, Grasindo, Elexmedia, Gagasmedia, Mizan, Cupid, Stiletto, Homerian Pustaka, Ufuk Press, dan masih banyak lagi yang lainnya. Tinggal search saja di google. Komik bisa kamu kirim ke Elex, buku Islami bisa coba kirim ke Mizan, cerita fiksi bisa kirim ke Grasindo, atau kalau kelewat pede kirim saja ke Gramedia sekalian. Untuk penulis pemula memang susah tembusnya. Sedangkan untuk penulis yang sudah pernah menerbitkan buku, bisa lebih mudah tembusnya ke Gramedia. Tumpukannya beda lho antara naskah yang dikirim penulis pemula dan penulis senior.

Setelah pilih mau kirim ke penerbit mana, hal berikutnya yang harus kamu perhatikan adalah syarat dan ketentuannya. Setiap penerbit mempunyai standar masing-masing. Misalnya Gramedia, mereka mengharuskan naskah diketik dalam kertas A4, spasi 1,5, Times New Roman. Untuk panjang naskah antara 100 -150 hal. Beda lagi dengan Grasindo, syaratnya spasi 1, A4, Times New Roman, panjang naskah antara 70 - 150 hal. Lain lagi dengan Stiletto, mereka hanya meminta diemail 30 hal pertama softcopy. Kalau mereka suka, nanti kamu akan diminta dikirimkan hardcopy keseluruhan naskahnya. Untuk syarat menurut saya tidak baku. Seandainya menurut mereka naskah kamu bagus, pasti mereka akan pertimbangkan. Hanya saja untuk penulis pemula sebaiknya jangan ngenyel ya. Ikuti saja aturan mereka. Dan hal yang tak kalah penting lainnya adalah menulislah sesuai EYD atau paling tidak hampir mendekati sempurna. Tau di mana penempatan titik koma, huruf besar kecil, dsb. Bayangkan saja ketika editor terima naskah kamu yang kacau, jangankan dibaca, melihat EYD yanh acak-acakan mungkin nasib kamu akan langsung meluncur ke tong sampah. Belajarlah untuk menjadi editor untuk naskah kalian sendiri. Saya pernah mendengar seorang editor berkata seperti ini, "Kalo penulisnya aja enggak peduli sama naskahnya, kenapa kita harus peduli?" That's right. Bayangkan misalnya naskah kamu diterima, PR ya buat editor hanya untuk mengedit naskah kamu. Walaupun naskah kamu bagus bisa jadi ditolak hanya karena naskah kamu tidak sesuai EYD atau dalam arti kacau balau.

Selain naskah, kamu juga wajib membuat ringkasan cerita yang panjangnya 1-3 hal. Bukan untuk belakang cover lho ya, jangan coba-coba buat editor penasaran dengan menulis seperti ini, "Bagaimana kelanjutan hubungan Arie dan Diva? Baca selengkapnya di buku ini." Jangan coba-coba seperti ini deh. Itu urusan nanti buat belakang cover kalau seandainya naskah kamu diterima. Rangkum saja inti dari cerita kamu itu apa dan buatlah sesingkat mungkin. Tapi yang harus kamu ingat adalah ringkasan itu wajib menjelaskan secara keseluruhan mulai dari awal, konflik, hingga ending. Biasanya dengan hanya membaca ringkasan cerita kamu, editor sudah mempunyak gambaran apakah naskah kamu akan diterima atau ditolak. So, buatlah sebagus mungkin ya. Tapi tidak menutup kemungkinan, ringkasan yang kamu buat sangat bagus, tapi setelah membaca naskah kamu, editornya ternyata tidak suka. 

Oia, jangan lupa menyertakan biografi singkat, bukan CV seperti melamar kerja. Tidak lucu kan kalau kamu bisa menulis cerita beratus-ratus halaman, tapi membuat biografi singkat malah tidak bisa. Sumpah itu memalukan lho. Sertakan foto kamu juga di dalam biografi tersebut. Tapi jangan pernah menampilkan foto yang tidak pantas seperti foto kamu yang sedang nongkrong di pinggiran. Itu sih sebaiknya cukup untuk di posting media sosial saja.

Dijilid juga yang rapi, sertakan biografi, ringkasan cerita, semuanya dijadikan satu. Langkah selanjutnya tinggal dikirim via pos, JNE, TIKI, atau bisa langsung antar sendiri ke penerbitnya. Terserah mau pilih yang mana. Setelah kirim, seminggu kemudian jangan lupa konfirmasi via telp ke penerbitnya. Tanya naskah kamu sudah diterima atau belum oleh mereka. Sekalian basa-basi busuklah biar editornya kenal sama kamu. Kalau semuanya sudah kamu lakukan, next tinggal tunggu surat cinta dari mereka yang menyatakan naskah kamu diterima atau ditolak. Waktunya tergantung dari masing-masing penerbit. Ada yang cepet, ada berbulan-bulan bahkan sampai setahun pun ada. Nah, sambil menunggu kabar dari penerbit, ayo menulis lagi.
Posted by: caecilia
CS.Com Updated at: November 18, 2013
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...