Showing posts with label Work. Show all posts
Showing posts with label Work. Show all posts

October 13, 2016

Pengalaman Berpartisipasi dalam Program Tax Amnesty

Belakangan ini pemerintah sedang gencar-gencarnya mensosialisasikan program Tax Amnesty kepada seluruh masyarakat yang menurut saya agak terlambat. Seharusnya pemerintah sudah harus mensosialisasikan kepada masyakarat sejak program ini belum diketuk palu. Saya sendiri sampai saat ini sudah mengikuti tiga kali seminar Tax Amnesty. Pertama kali saya mengikuti seminar ini pada pertengahan bulan Mei 2016 yang diundang oleh BCA di Hotel Peninsula. Kedua kalinya pada akhir Juli 2016 di Kementrian Keuangan Direktorat Jenderal Pajak, dan ketiga kalinya di The Hall Senayan City yang diundang oleh Direktorat Jenderal Pajak.

Antusias warga menurut saya lumayan besar melihat para peserta yang menghadiri Tax Amnesty ini sungguh di luar dugaan. Terbukti ketika saya mengikuti seminar untuk kalangan bebas di Kementrian Keuangan beberapa waktu yang lalu dengan kuota hall 1000 orang. Yang tercatat saat itu sudah mencapai 3000 orang dan bahkan sebagian besar terpaksa pulang karena kondisi di dalam hall sudah tidak memungkinkan menampung semua peserta yang datang. Bahkan saat itu lebih dari setengah peserta terpaksa harus duduk di karpet dan berdiri karena kursi yang disediakan hanya 1000 kursi. Sedangkan seminar saya di Hotel Peninsula dan di The Hall Senayan City lebih terorganisir dengan baik karena kursi disediakan berdasarkan undangan. Jadi, memang tidak semuanya diundang. Hanya perusahaan terpilih saja yang bisa ikut.

Menurut saya program ini sangat menarik. Sayangnya karena kurangnya sosialisasi bagi masyarakat umum, banyak yang tidak mengetahui adanya program ini. Bahkan di kalangan perusahaan pun, jika orang tersebut tidak berada dalam tax divition, saya yakin masih banyak yang tidak masih awam bahkan sama sekali tidak tahu.
Berdasarkan pengalaman saya sendiri mengikuti Tax Amnesty, alurnya tidak terlalu rumit. Kalau kalian masih bingung, kalian bisa langsung pergi ke KPP terdekat dan minta penjelasan kepada helpdesk mengenai program ini dan kalian juga bisa meminta CD yang berisi formulir yang harus diisi. 

Formulir yang harus diisi adalah :
  1. Formulir Induk ttd di atas materai 6000
  2. Formulir Daftar Rincian Harta dan Utang (Jika ada claim hutang (harus ada surat resmi dari si pemberi hutang, misalnya hutang KPR ke BCA, kalian tinggal minta surat pernyataan hutang ke BCA). Hutang yang boleh di claim tidak boleh lebih dari 50% dari nilai aset. Hutang yang di claim harus berhubungan dengan aset yang diikutkan Tax Amnesty).
  3. Melampirkan Surat Pengakuan Kepemilikan Harta (Format bebas) ttd di atas materai 6000
  4. Melampirkan Surat Pernyataan tidak Mengalihkan Harta Tambahan yang Telah Berada di Dalam Wilayah NKRI ke Luar Wilayah NKRI ttd di atas materai 6000

Berapa lama saya mempersiapkan Tax Amnesty?
Hanya 4 hari

Kok bisa?
Iya, karena saya agak kaget juga awalnya. Saya memang agak santai dan tidak memusingkan soal Tax Amnesty karena perusahaan tempat saya bekerja tidak mengikuti program ini. Semuanya sudah dilaporkan dan tidak ada yang perlu diamnesti.

Beberapa kali boss saya kasih kode, "Yang pasti sih kalau pribadi saya pasti ikut." Saya cuma ngangguk-ngangguk saja karena saya pikir Tax Amnesty pribadi dia bukan urusan saya. Dan mana mungkin dia mau open mengenai keseluruhan jumlah harta dia ke saya. Gitu sih pemikiran polos saya saat itu.

Ternyata, setelah memasuki minggu terakhir bulan September, dia bilang lagi, "Tolong persiapkan semuanya kalo bisa hari Selasa minggu terakhir saya sudah bayar uang tebusan." Nah lhooooo. Saya langsung sadar ternyata selama ini dia menunggu saya urus. Kalau tau dari awal, saya pasti persiapkan dari awal dan tidak akan kocar-kacir di last minutes.

Setelah mendengar ultimatum seperti itu, tanggal 26 Sept 2016 saya meluncur ke KPP terdekat dan masih belum tau apa yang harus saya konsultasikan. Pokoknya pemikiran saya datang dulu aja ke Help Desk. Di Help Desk pun, petugasnya tidak friendly karena saya tidak membawa berkas apapun yang harus saya tanya. Tujuan saya ke sana ya mau minta penjelasan mengenai alur dari Tax Amnesty ini. Formulir apa yang harus saya isi dan sebagainya. Di sana, saya diberikan CD yang berisi formulir yang harus saya isi dan saya langsung kembali ke kantor dan meminta atasan saya menyiapkan list harta dan hutang dia yang mau dia ikutkan Tax Amnesty.

Tanggal 27 Sept 2016 malamnya, saya baru mendapatkan list keseluruhan aset atasan saya. Setelah melakukan penginputan di CD, saya kembali konsul ke Help Desk pada tanggal 28 Sept 2016. Di sana, saya membawa keseluruhan berkas dan meminta petugasnya untuk memeriksa apakah masih ada kekurangan dalam berkas pelaporan saya. Setelah diperiksa, katanya sudah OK dan bisa langsung buat id billing untuk bayar uang tebusan.

Problem Pertama :
Setibanya di kantor, saya menunggu atasan saya selesai meeting dan dilanjut makan siang. Sudah jam 2 beliau masih belum kembali ke kantor. Agak panik juga karena setahu saya transaksi pembayaran pajak di bank hanya sampai jam 2 siang. Setelah di telp, atasan saya baru kembali ke kantor dan menandatangani giro. Karena saya pikir untuk membayar uang tebusan ini bisa di BCA mana saja, akhirnya saya putuskan untuk menyetornya besok di KPP Serpong sekalian lapor.
Problem Kedua :
Keesokan harinya, 27 Sept 2016 Jam 8 pagi saya sudah tiba di BCA Serpong untuk menyetorkan uang tebusan. Apa yang terjadi? Ternyata giro tersebut tidak bisa dijalankan karena gironya atas nama PT walaupun pemiliknya itu terdaftar atas nama atasan saya. Solusi yang berikan BCA adalah mentransfer uang tebusan menggunakan ATM atau menggunakan cek. Masalahnya adalah kantor saya di Jakarta dan saya tidak membawa Cek Kosong. Solusi satu-satunya saat itu mau tidak mau harus menggunakan cek. Saya meminta driver untuk membawa cek ke tempat atasan saya meeting untuk di ttd beliau lalu membawanya ke tempat saya. Untungnya, istrinya atasan saya (boss) saya juga ikut mendampingi saya sepanjang hari itu. Kami meluncur ke BCA Prioritas dan dilayani dengan baik (namanya juga nasabah prioritas :D). Proses pencairan cek lancar karena salah satu yang ttd di cek itu boss saya yang cewek itu. Kalau tidak ada boss saya, saya rasa saya akan dicurigai membawa cek dengan nilai yang sangat besar. Harus ada konfirmasi ke BCA Cabang pembukaan giro, konfirmasi ke kantor, dan konfirmasi lagi ke boss saya. Semua konfirmasi itu dilewatkan oleh petugasnya karena boss saya sendiri yang mencairkannya.
Problem Ketiga :
Setelah uang tebusan sudah dibayar, saatnya kami meluncur ke KPP Serpong. Setibanya di sana sudah ramai dan antrian membludak. Untungnya, boss saya sudah meminta kurir untuk mengambil nomor antrian dari jam 7 pagi dapat nomor antrian 147 dan nomor antrian CD 75. Jadi, teman-teman harus mengambil dua nomor antrian ya. Nomor antrian PENERIMAAN dan No antrian CD. Nomor antrian CD ini adalah untuk mengecek apakah file yang dimasukkan ke dalam CD bisa di uploud ke system.

Pada saat tiba di KPP, no urut saya sudah lewat. Untungnya MC langsung memanggil saya masuk ketika ada bagian penerimaan yang kosong. Setelah dicek, berkas saya sudah lengkap dan yang bermasalah hanya CD saya tidak bisa di uploud. Akhirnya saya dioper ke bagian CD dan nomor saya juga sudah lewat dan untungnya dikasih duluan setelah ada yang selesai. Setelah diperbaiki saya kembali ke bagian penerimaan. Semua sudah OK katanya. TAPI, saya harus melaporkan berkasnya di KPP Pondok Aren karena domisili lamanya adalah di sana walaupun kode KPP atasan saya itu sebenarnya Serpong.

Sudah jam 1 siang dan kami langsung menuju Pondok Aren dan tiba di sana jam 2 siang dan mendapatkan no antrian 398. Kami tinggal makan siang dulu dan kembali ke KPP jam 4 sore dan ternyata no antrian yang dipanggil belum sampai 300. Saya baru dipanggil jam 7 malam. Saya pikir setelah dipanggil 15 menit juga kelar karena berkas saya sudah di cek sebelumnya di Gambir dan di Serpong harusnya tidak ada masalah lagi.

Di bagian penerimaan, masalah saya hanya di NTPN yang tidak muncul saat uploud. Tapi untungnya berhasil diatasi oleh petugasnya. Setelah itu berkas saya dioper ke bagian penelitian. Ternyata oh ternyata. Prosesnya panjang bener. Dan menunggu dipanggil lagi. Setelah dipanggil, berkas saya diteliti dan diminta memperbaiki beberapa item dan selesai semuanya hingga tuntas jam 9 malam. Amaizing. Ini first time bagi saya menunggu selama itu. Tapi akhirnya lega setelah mendapatkan kertas ini :


Tips mempermudah lolos di bagian penerimaan dan penelitian tanpa di komplen :
  1. Jika ada kolom yang tidak ada isinya biarkan kosong saja semua barisnya termasuk no urutnya dihapus.
  2. Jika asetnya atas nama anak dan istrinya sekaligus, masukkan salah satunya saja.
  3. Jika ada no dokumen yang tidak ada, kosongkan saja.
  4. Satuan untuk rumah dan tanah adalah Meter Persegi.
  5. Pada kolom jumlah/kuantitas masukkan total luas tanahnya (untuk rumah dan bangunan).

Setelah itu, saya tinggal menunggu surat pengampunan dari KPP selama 10 hari kerja. Puji Tuhan lega :)

Posted by: caecilia
CS.Com Updated at: October 13, 2016

March 17, 2015

Kewajiban Lapor SPT Tahunan OP

Beberapa hari yang lalu ada seorang teman yang menanyakan apakah dia harus lapor SPT PPh OP (Orang Pribadi) untuk tahun pajak 2014 sedangkan dia baru membuat NPWP Oktober 2014. Dia kerja sebagai karyawan swasta di salah satu perusahaan di Indonesia.

Jawabannya :

WAJIB lapor. Kecuali baru memiliki NPWP di tahun 2015, kewajiban lapor SPT PPh OP adalah tahun depan (Maret 2016). Tidak peduli kamu sudah mulai kerja sejak beberapa abad silam, tapi kalau kamu belum mempunyai NPWP,  kamu tidak memiliki kewajiban melaporkan SPT PPh OP. 

Saran dari saya, kalau sudah bekerja sebagai karyawan sebaiknya membuat NPWP. Tidak memiliki NPWP yang dirugikan adalah WP itu sendiri karena potongan PPh Pasal 21 dikalikan sebesar 6% atau 20% lebih tinggi dibandingkan yang punya NPWP. 

Banyak juga yang masih salah persepsi. Menurut mereka kalau  sudah mempunyai NPWP harus wajib lapor SPT PPh OP. Padahal tidak semuanya mempunyai kewajiban melaporkan. Ada beberapa pengecualian sbb:
Posted by: caecilia
CS.Com Updated at: March 17, 2015

Cara Mengecek Nomor handphone Disadap

Ada yang tahu bagaimana cara mengecek nomor handphone kita disadap? Beberapa waktu yang lalu saya mengikuti workshop di Royal Safari Garden di Puncak dan pembicaranya pernah kerja di Telkom. Dia menjelaskan kepada kami peserta workshop cara mengecek nomor hp kita apakah disadap oleh orang lain. Awalnya saya tidak terpikirkan untuk mengecek karena saya yakin tidak ada yang menyadap nomor saya. Tapi, karena semua peserta workshop hari itu "kepo", akhirnya saya juga ikut-ikutan mengeceknya.
Caranya begini : ketik *#61# 

Cara di atas berlaku untuk semua operator. Kalo seandainya yang muncul seperti di bawah ini, berarti no kalian tidak disadap.

“Forward if no reply is disabled for voice, data, fax, SMS, data circuit sync, data circuit async, packet access, and PAD Access."

Atau seperti gambar di bawah ini : 




Tapi, kalau ada muncul nomor yang tidak dikenal, dipastikan bahwa nomor kalian disadap oleh nomor tersebut atau setidaknya pernah disadap.

Survey membuktikan :
Ternyata sebagian besar dari peserta workshop (kecuali saya tentunya) nomor mereka disadap termasuk kedua atasan saya. Yang menjadi pertanyaan saya kenapa para boss nomornya disadap? Apakah dari pihak pemerintah yang ingin memantau pajak? Atau dari para lawan bisnis? Entahlah. Yang penting nomor saya tidak disadap jadi saya merasa aman-aman saja.

Kata pembicara workshop, nomor dia juga pernah disadap dan dia mencoba mencari tahu bagaimana cara menghapusnya dan sampai saat ini belum juga menemukan solusinya. Mungkin satu-satunya cara untuk saat ini adalah dengan mengganti nomor handphone kalian. 

Bisa coba dilakukan dengan cara menonaktifkan fitur forwarding. Tapi saya juga kurang tahu bagaimana teknisnya. Untuk menghindari agar nomor kita aman, sebaiknya lakukan pengecekan sesering mungkin dan secara rutin. Dan kalau sudah disadap, kalian tidak perlu sampai mengganti nomor kalian asalkan jangan melakukan pembicaraan dan SMS yang sifatnya rahasia untuk nomor tersebut.

Posted by: caecilia
CS.Com Updated at: March 17, 2015

April 21, 2014

Dinamika Kelompok (FGD) BDP BCA

Berawal dari pagi yang cerah, penantian saya setelah dua minggu lebih akhirnya terjawab. Selama dua minggu ini saya memang was-was. Setiap kali ada telpon masuk di hp langsung grabak grubuk dan berkali-kali kecewa karena yang menelpon saya setiap hari dan ada-ada saja itu selalu dari marketing yang menawarkan kartu kredit, asuransi, pinjaman, fitness, dan segala macamnya. Dan tepatnya hari Selasa, 15 April 2014 jam 9 pagi saya ditelpon oleh BCA yang artinya saya diundang untuk Dinamika Kelompok hari Kamis di Wisma Asia I Slipi. YES!!

Sampailah di Hari H di mana saya pagi-pagi sudah sibuk bbm manager minta izin tidak masuk kerja dengan alasan sakit (yang ini jangan ditiru ya, hehe). Setibanya di sana, sudah cukup ramai. Tadinya saya pikir mereka adalah peserta dinamika kelompok juga. Ternyata saya salah. Itu orang-orang yang sign contract. Dan sekitar jam sembilan, akhirnya yang pada sign contract turun ke lantai 17. Sisa 7 orang yang artinya itu pasti teman diskusi nanti. Dan kita duduknya jauh-jauh selang-seling. Padahal niat saya dari awal setidaknya saya kenalan dulu sama mereka biar enak nanti diskusinya. Ketika ada seorang cewek yang saja kembali dari toilet dan dia duduk di samping saya, langsung saya ajak kenalan. Namanya Deasy. S1-nya UNTAR dan S2-nya di UGM. Dan saya langsung speechless. Wow. S2 di UGM pula. Dan dia mengambil Internal Audit sama seperti saya. Singkat cerita kami langsung akrab mengobrol banyak. Sampailah kami dipanggil masuk oleh bapak Riyanno yang memandu kami untuk FGD (Focus Discussion Group) atau dinamika kelompok.

Setelah itu, Pak Riyanno memberikan topik, “Kami adalah konsultan dan dipanggil oleh pemerintahan SBY untuk diminta masukan mengenai bagaimana cara mengatasi crowdednya Jakarta.”

Salah satu peserta yang bernama Sand* langsung mengeluarkan  pendapatnya mengenai Pembangunan Infrastruktur, dan bla-bla. Lalu masing-masing dari kami akhirnya mengeluarkan pendapat masing-masing. Dan yang paling dominan ini si Sand*. Intinya selama 15 menit diskusi itu topik yang menurut saya mudah itu jadi berbelit-belit di mana masing-masing masih tetap memberikan pendapat tanpa kesimpulan. Saya sebenarnya mau memotong diskusi kami dan mau mengarah pada kesimpulannya. Ehhh, tiba-tiba Pak Riyanno bilang waktunya habis dan tunjuk satu jubir. Omaigat!!! Nah yang ditunjuk adalah Sand* (bukan saya yang pilih tapi salah satu dari kami yang memilihnya dan yang dipilih oke-oke saja). Btw, kalau diskusi kami tadi ditambah waktu lagi mungkin bisa jadi karya ilmiah!

Akhirnya jubir mulai mempresentasikan dan ditanya-tanya oleh Pak Riyanno. Yang lain tidak boleh menjawab kecuali ditunjuk. Padahal saya sudah siap-siap kalau seandainya saya ditanya. Ternyata setelah dia menanyakan rekan di depan saya, diskusi kami langsung  selesai dan tidak jelas titik cerahnya. 

Kemudian, Ibu Helen mulai membagikan puzzle yang harus kami kerjakan dalam 15 menit. Kami hanya bisa menyelesaikan 15 puzzle. Ibu Helen menanyakan kenapa kami tidak bisa menyelesaikan puzzle itu. Kesulitannya di mana? Lagi-lagi si Sand* yang langsung buru-buru menjawab. Dia bilang banyak tangan-tangan yang mengerjakan itu jadinya ribet. Dan ada yang mengambil puzzle yang sudah dipasang tapi tidak dikembalikan ditempat semula. Busettttt!!!

Walaupun saya tidak  merasa melakukan apa yang dia bilang, tapi menurut saya tidak etis kalau dia menyalahkan teman kelompoknya. Terus Ibu Helen bilang, "jadi menurut kamu gimana? Ngerjain sendiri-sendiri aja?" Dia jawab, "satu orang aja yang nyusun puzzlenya."

Ibu Helen, "menurut kamu siapa yang bisa jadi koordinatornya?"
Dia jawab, "Mol*"

Akhirnya Ibu Helen bertanya kepada yang lain, "menurut yang lain gimana?"

Nah, saatnya saya mengacung. “Menurut saya, kerja sama antara kami bertujuh sudah cukup baik. Hanya saja kami kesulitan karena tidak tahu starting pointnya. Kami kesulitan menentukan mana puzzle yang harusnya dipinggir atau ditengah. Kami tidak tahu polanya dan bagaimana trik-trik mengerjakan puzzle ini.” Didukung oleh anggukan beberapa kepala yang setuju. Kemudian Ibu Helen bertanya lagi, “Menurut kamu, starting pointnya di mana?” saya jawab : “Menurut saya, puzzle yang ada lengkungan seperti ini (sambil megang salah satu puzzle), adalah dibagian pinggir. Tapi tidak tahu menurut pendapat teman-teman. Soalnya ini adalah kelompok dan harus berdasarkan keputusan bersama.”

Setelah itu, Ibu Helen memberikan waktu 10 menit lagi dan kami harus menyelesaikan 20 puzzle. Dan kami hanya bisa mengerjakan 16 puzzle.  Kali ini saya tidak menjawab dan memberikan kesempatan yang lain. Menurut saya kenapa kami tidak bisa menyelesaikan puzzle-nya karena terpaku dengan pola awal yang sudah dibuat. Padahal tidak menutup kemungkinan, pola pinggir yang kami susun adalah salah dan malah bisa berada ditengah. Saya melihat ada yang salah dengan pola puzzle kami. Saya menyarankan untuk bongkar saja tapi mereka tidak berani ambil resiko. Jadi, tambahan waktu 10 menit itu kami hanya melanjutkan pola pertama tanpa mengubahnya. Padahal sudah jelas sisa puzzle nya itu sudah tidak bisa di sambung ke mana-mana lagi yang artinya polanya salah. Kalau saya yang susun, saya sudah bongkar. 10 menit itu lama lho. Dan walaupun tidak selesai setidaknya saya puas karena sudah mencoba membongkarnya. 

Setelah itu, Pak Riyanno menjelaskan tentang BDP dan kami diminta menunggu di depan sekitar 10 menit untuk melihat siapa yang lolos. 

Dan yang lolos ternyata 5 orang termasuk saya.

Tips-tips buat yang mau FGD :
  1. Jangan terlalu dominan dan kasih kesempatan yang lain bicara
  2. Perhatikan saat teman sedang mengeluarkan pendapat
  3. Jangan terlalu pasif
  4. Lebih baik jarang bicara, tapi sekalinya memberikan pendapat membuat yang lain WAWWW!!
  5. Hargai pendapat teman dan jangan malah menyerang teman sendiri (Ini diskusi kelompok bukan debat)
  6. Tunjuk jubir dengan benar bukan berdasarkan dominannya dia tapi pemikirannya biasa-biasa saja (Kalau Jubirnya bisa mempresentasikan dan menjawab pertanyaan Pak Riyanno dengan baik, artinya kelompok kita akan dinilai baik)
  7. Saat puzzle, hati-hati saat bicara
  8. Jangan menyalahkan teman kalau tidak bisa menyelesaikan puzzlenya 
  9. Banyak-banyak baca tentang pengetahuan umum

Nah, terus kami diminta mengisi formulir dalam jumlah banyak. Sambil mengisi formulir kami kenalan dan langsung akrab. Kami makan siang bersama berlima dilantai 7. Jam 1 kembali lagi ke lantai 21 untuk menunggu interview. Mereka itu ternyata gokil-gokil anaknya. 

Sampailah akhirnya saya dipanggil interview hrd. Sama ibu-ibu cantik dan masih muda. Saya lupa menanyakan namanya dan dia tidak memperkenalkan diri. Kalau dalam sesi ini santai. Ditanya tentang diri kita sendiri. Hampir sama dengan interview psikolog. Bedanya kalau dengan Hrd lebih rileks daripada sama psikolog yang kaku. Saya saja bisa sambil ketawa-ketawa sama ibunya. So far so good.

Semoga informasi ini berguna untuk teman-teman yang sedang proses BDP. Good luck !
Posted by: caecilia
CS.Com Updated at: April 21, 2014

April 1, 2014

Psikotest BDP (BCA Development Program)

Sesuai dengan judulnya, kali ini saya mau cerita tentang pengalaman saya psikotest di BCA. Sebenarnya nih, saya tidak ada niat apply serius ke BCA. Bisa dibilang hanya iseng saja apply lewat website BCA. Dari sebuah keisengan, ternyata keesokan harinya saya mendapat panggilan psikotest hari sabtu. Cepat ya.

Sabtu pagi saya bangun subuh dan jam 5 saya sudah berangkat dari rumah dan tiba di BCA Wisma Asia jam 6:40. Kepagian karena mulai psikotestnya jam 8. Dan untungnya, peserta yang mau ikut psikotest sudah ramai. Semangatnya harus diancungi jempol.

Oia, buat yang berangkat dari Bogor, bisa naik bus dari terminal baranang siang yang jurusan Bogor - Kalideres. Nanti minta turun di Slipi Jaya. Wisma Asia ada di seberangnya slipi jaya. Jadi tinggal menyebrang saja. Pilihan kedua, bisa naik kereta api (commuter line). Dari stasiun Bogor naik yang jurusan Tanah Abang. Transit di Tanah Abang terus naik yang jurusan Serpong. Turun di Palmerah. Palmerah 1 stasiun saja dari Tanah Abang. Dari Palmerah naik Kopaja 86 minta turun di Slipi Jaya. Dekat kok. Paling 10 menitan. Saya berangkat dari rumah  di Bogor tiba di Wisma Asia perjalanannya selama 2 jam. Pulangnya ikuti jalur berangkat ya.

Sebelum psikotest dimulai, saya sempat kenalan dengan anak Binus. Namanya Margaretha, jurusan IT. Setelah ngobrol-ngobrol, ternyata anak Binus banyak yang ikut psikotest.

Setelah menunggu giliran absen dan mengumpulkan CV, mulailah kita mengerjakan soal. Terdiri dari 10 subtest. Deret, logika matematika, test gambar, kubus, hapalan, sinonim, antonim, test pauli, dan apalagi ya? Lupa, hehe. Waktu mengerjakan setiap subtest dibatasi. soalnya menurut saya mudah, hanya perlu kecepatan dan ketelitian karena waktunya terbatas dan kita tidak tahu batas waktunya itu sampai kapan. Menurut perhitungan saya, rata-rata 1 subtest yang isinya 20 soal dikasih waktu kurang lebih 10 menit. Dan hapalan cuma 6 menit. Yang paling lama itu test pauli atau test koran. Menjumlahkan sampai saya mabok. 

Selesai test pauli, kita hanya menunggu sekitar 5 menit dan langsung diumumkan siapa yang lolos ke tahap berikutnya. Ternyata selama kami mengerjakan soal, teamnya juga sambil memeriksa  jawaban. Psikolognya mulai menulis nomor peserta di papan tulis dan saya hopeless karena tidak ada nomor saya di sana. Ternyata saya salah, nomor yang ditulis di papan tulis adalah nomor peserta yang tidak lolos dan diperbolehkan pulang. Akhirnya! Horeee saya lolos psikotest.

Jangan happy dulu ya. Belum selesai dan masih lanjut ke test berikutnya. Tapi test kali ini lebih mudah. Hanya menjawab 90 soal tentang kepribadian kita. Terus gambar pohon, manusia, dan warteg test. Semuanya tidak ada batas waktunya jadi bisa sedikit lebih tenang mengerjakannya.

Jam 12 siang tibalah waktunya istirahat makan dan disiapkan oleh BCA. Seumur hidup saya psikotest, hanya di BCA yang menyediakan makan siang untuk pesertanya. Waktu makan 30 menit.

Setelah makan siang selesai, tibalah waktunya interview psikolog. Dibagi 4 kelompok. Saya peserta pertama yang di interview. Dan ini pertanyaannya sangat banyak. Tentang kuliah, kerja, tugas dan tanggung jawab, motivasi, kelebihan, kekurangan, tentang BCA itu sendiri, dan bla-bla. Semua tentang kepribadian ditanya detail dan biasanya dia menjebak kita dari jawaban kita. Soalnya saya sampai pusing tujuh keliling menjawab pertanyaan psikolognya.

Saya sudah lolos 3 tahap. Kalau seandainya lolos, ada tahap FGD, intervew hrd, interview user, dan terakhir medical check up. Panjang ya prosesnya jadi harus sabar. Katanya prosesnya ini bisa memakan waktu hingga berbulan-bulan. Yang membutuhkan kerjaan urgent, sebaiknya jangan membuang waktu kalian untuk ikut psikotest di BCA.

Tips bagi yang mau mengikuti psikotest :

1. Datang lebih awal. Kalau kalian telat nanti akan mengacaukan konsentrasi.

2. Pakaian rapi. Dandan yang cantik dan ganteng ya :D

3. Siapkan mental. Psikolognya tegas dan rada galak. Mendengarkan dia memberikan instruksi saja sudah membuat saya sport jantung. Psikotest ini akan menunjukkan apakah kita mampu bekerja di bawah tekanan atau tidak. Soal psikotestnya gampang kok. Mereka yang tidak lolos itu entah karena terlalu lambat mengerjakannya atau karena tidak fokus. 

4. Sarapan. Mengerjakan soal psikotest itu butuh konsentrasi, jadi sebaiknya fisik dalam kondisi sehat, dan perut tidak kosong supaya bisa maksimal.

5. Tidur yang cukup.

6. Cari tahu tentang BCA, kenali diri sendiri karena nantinya akan ditanya seputar tentang diri kita waktu interview, dan juga baca-baca soal psikotest supaya punya gambaran soal psikotest itu seperti apa.

7. Tips terakhir yang mau saya tekankan di sini, “KONSENTRASI”. Kalau kalian tidak konsen, soal yang harusnya bisa kalian jawab malah salah karena kalian tidak bisa fokus.

Saya tidak berharap banyak. Kalau lolos syukur, tidak lolos ya sudah. Masih banyak perusahaan lain yang menanti. *menghibur diri sendiri* hahaha

Semoga bermanfaat ya. Kalau saya lolos ke tahap berikutnya, saya pasti posting lagi. Pamit. Bye.
Posted by: caecilia
CS.Com Updated at: April 01, 2014
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...