Showing posts with label Gigi. Show all posts
Showing posts with label Gigi. Show all posts

August 1, 2018

Lepas Kawat Gigi / Behel dan Pasang Retainer Gigi

Postingan ini adalah kelanjutan dari tulisan sebelumnya tentang proses pemakaian behel saya. Sebenarnya saya sudah lepas behel dari akhir mei 2017. Sudah cukup basi dan maaf sekali lho baru bisa posting sekarang karena berbagai kesibukan selama ini :)

Saya pasang behel itu awal September 2015 dan lepas behel akhir Mei 2017 kalau dihitung berarti 1 tahun 9 bulan saya memakai behel. Cepet ya? Sebenarnya target saya itu 1,5 tahun, tapi ya karena ada satu dan lain hal, kadang sayanya sibuk jadi kontrol agak molor, atau dokternya lagi cuti dan jadwal kita bentrok. Tapi, Puji Tuhan semuanya telah selesai. Dan lucunya, setelah 1 tahun lepas behel kok saya merasa kangen pakai behel ya, hehe. 

Nah, sekarang pasti pada penasaran dengan gambarnya. Beginilah penampakannya.
Sebelum pakai behel

Saat Pemakaian Behel

Setelah 1 tahun lebih lepas behel (Baru Foto). Setahun lalu saya lupa foto :) Tapi masih rapi kan, hehe

Cukup oke? Yang pasti gigi saya jauh lebih baik dari sebelum pakai behel dan dokter sudah mengusahakan yang terbaik untuk gigi saya. Beliau mengucapkan terima kasih dan saya juga mengucapkan terima kasih atas bantuannya. 

Biaya yang saya keluarkan :

1 Agustus 2015
Saya konsul dengan dokter ortho untuk pemasangan behel. Beliau menjelaskan mengenai biaya, prosedur, proses dan persiapan sebelum memasang behel. Setelah sepakat dengan dokternya, gigi saya dicetak dan di rontgen.
Cetak gigi rahang atas dan bawah : 150.000
Rontgen Panoramic : 150.000
Rontgen Cephalometri non kontras : 160.000
Biaya dokter spesialis, alat, dan pendaftaran : 135.000
Setelah di cetak dan rontgen, dilanjutkan dengan penambalan gigi dengan dokter gigi umum.
Biaya tambal sinar (caries sedang) 1 gigi : 250.000
Biaya dokter gigi, alat dan pendaftaran : 70.000

15 Agustus 2015
Saya melakukan pencabutan dua gigi sekaligus dengan dokter gigi umum dari total 4 gigi yang harus dicabut.
Pencabutan 2 gigi posterior di rahang bawah (gigi 4 dibelakang taring) : 500.000
Biaya dokter, alat dan pendaftaran : 70.000
Obat antibiotik & obat pereda sakit : 178.750 + 87.345

22 Agustus 2015
Pencabutan 2 gigi posterior di rahang atas : 500.000
Kontrol post extractie dan buka jahitan pencabutan gigi sebelumnya : 100.000
Tambal sinar 2 gigi caries kecil : 400.000
Tambal sinar 1 gigi caries sedang : 250.000
Biaya dokter, alat dan pendaftaran : 70.000
Obat kumur dan antibiotik : 113.438 + 178.750
Kenapa gigi sampai ditambal sebanyak 4 gigi? Karena saat pemasangan behel, gigi harus dalam kondisi sehat. Walaupun cariesnya kecil dan tidak terlihat secara kasat mata, giginya tetep harus ditambal.

29 Agustus 2015
Setelah kondisi gigi sudah sehat, tidak ada caries, gigi sudah dicabut 4 gigi untuk memberikan space gigi yang mau ditarik, akhirnya tibalah saat pemasangan.
Biaya behel konvensional : 8.500.000
Biaya alat dan pendaftaran : 42.000
Biaya dokter : free

Kontrol Bulanan : 
26 Sept 2015 - 30 Mei 2017 = 32 kali kontrol x @300.000 (rata-rata) =  9.600.000

30 Mei 2017
Biaya diatas belum full lho ya. Setelah janjian dengan dokternya untuk lepas bracket, saya dihadapkan beberapa pilihan yang wajib diambil sebagai syarat untuk lepas behel yaitu Pembuatan Retainer. Retainer tujuannya adalah untuk mempertahankan posisi gigi supaya tetap rapi dan tidak kembali seperti semula setelah pasca perawatan behel selesai dilakukan. Retainer diperlukan sebagai perawatan lanjutan dan berlangsung dalam jangka waktu yang lama. Nasihat dari dokter saya retainer ini harus dipakai setiap malam sebelum tidur selama 1 tahun pertama. Setelah 1 tahun dipakai seminggu sekali saja selama seumur hidup :). So, kalau kalian memutuskan memakai behel, itu artinya kalian teken kontrak seumur hidup dengan retainer ini :)).

Ada 2 jenis retainer yang dokter tawarkan. Pertama, retainer yang berbentuk kawat dimana terdapat lapisan akrilik untuk menyambungkan kawat-kawat tersebut. Retainer tersebut terdiri dari kawat dan plastik yang melekat pada langit-langit dan akan melengkung diatas dan permukaan bagian bawah gusi depan untuk lengkung bawah. Kedua, retainer yang berupa lapisan plastik transparan yang bentuknya sesuai dengan posisi gigi geligi. Retainer ini biasa disebut kawat gigi invisalign atau platik bening. 

Saya pilih retainer transparan karena lebih simple gampang dilepas dan pasang sesuka hati dan bisa dibawa ke mana. Harga paket retainer transparan 2,5 juta (Mei 2017). Setelah diputuskan jenis retainernya, saya harus cetak gigi lagi untuk terakhir kalinya setelah behel dilepas oleh dokternya. Jadi retainer ini akan dicetak sesuai dengan bentuk gigi saya dan akan dibuatkan di lab nya dokter di Jakarta. Waktu pembuatan adalah 2 minggu. Nah, proses ini sebenarnya bikin saya sempet kesel, malasahnya setelah waktu yang dijanjikan 2 minggu itu, ternyata cetak gigi saya yang terakhir itu retak akhirnya dokternya tidak bisa melanjutkan pembuatan retainer. Saat saya datang, beliau akhirnya mencetak gigi saya lagi dan berharap cetakannya bagus lalu saya dikasih no HP beliau agar bisa menghubungi beliau sebelum datang untuk memastikan retainernya sudah jadi. Tapi untungnya, yang kedua kalinya ini tidak ada masalah dan akhirnya jadilah retainer saya seperti ini :



Jadi, total biaya yang saya keluarkan dari awal - sampai pasang retainer itu kurang lebih 24-25 juta. Bisa buat DP mobil, lol. Kalau dihitung-hitung memang mahal, tapi ini berlangsung selama hampir 2 tahun. Jadi uangnya juga tidak langsung keluar segitu. Yang paling berasa adalah saat pemasangan awal dan saat pelepasan karena membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Paling enak adalah saat kontrol karena hanya bayar kurang lebih 300 ribu saja. 

Saran saya sebagai akhir dari tulisan ini, siapkan budgetnya ya sebelum memutuskan menggunakan behel. Jangan sampai behel sudah dipasang dan tidak dilepas-lepas karena kekurangan biaya saat kontrol atau saat pelepasan behel. Sayang waktu dan uangnya. Jangan sia-siakan apa yang sudah kita mulai. 

Semoga bermanfaat ya dan selamat menuju senyum pepsodent :)
Posted by: caecilia
CS.Com Updated at: August 01, 2018

September 18, 2016

Biaya Pemasangan dan Kontrol Kawat Gigi / Behel

Memenuhi permintaan salah satu reader, saya mau share tentang biaya pemasangan behel mulai dari persiapan, pemasangan, sampai biaya selama kontrol.

Biaya pemasangan behel ini tentu saja berbeda setiap orang. Tergantung kasus giginya, dokternya, rumah sakitnya dan juga behel yang digunakan.

Kalau teman-teman membaca postingan saya sebelumnya, saya sudah menjelaskan singkat mengenai biaya pemasangan behel. Saya memasang behel di Rumah Sakit Mulia Padjajaran Bogor dengan drg. Andi Herdiana, Sp. Ort (spesialis orthodonti).

Persiapan sebelum memasang behel :

1 Agustus 2015
Saya konsul dengan dokter ortho untuk pemasangan behel. Beliau menjelaskan mengenai biaya, prosedur, proses dan persiapan sebelum memasang behel. Setelah sepakat dengan dokternya, gigi saya dicetak dan di rontgen.
Cetak gigi rahang atas dan bawah : 150.000
Rontgen Panoramic : 150.000
Rontgen Cephalometri non kontras : 160.000
Biaya dokter spesialis, alat, dan pendaftaran : 135.000

Setelah di cetak dan rontgen, dilanjutkan dengan penambalan gigi dengan dokter gigi umum.
Biaya tambal sinar (caries sedang) 1 gigi : 250.000
Biaya dokter gigi, alat dan pendaftaran : 70.000

15 Agustus 2015
Saya melakukan pencabutan dua gigi sekaligus dengan dokter gigi umum dari total 4 gigi yang harus dicabut.
Pencabutan 2 gigi posterior di rahang bawah (gigi 4 dibelakang taring) : 500.000
Biaya dokter, alat dan pendaftaran : 70.000
Obat antibiotik & obat pereda sakit : 178.750 + 87.345

22 Agustus 2015
Pencabutan 2 gigi posterior di rahang atas : 500.000
Kontrol post extractie dan buka jahitan pencabutan gigi sebelumnya : 100.000
Tambal sinar 2 gigi caries kecil : 400.000
Tambal sinar 1 gigi caries sedang : 250.000
Biaya dokter, alat dan pendaftaran : 70.000
Obat kumur dan antibiotik : 113.438 + 178.750

Kenapa gigi sampai ditambal sebanyak 4 gigi? Karena saat pemasangan behel, gigi harus dalam kondisi sehat. Walaupun cariesnya kecil dan tidak terlihat secara kasat mata, giginya tetep harus ditambal.

29 Agustus 2015
Setelah kondisi gigi sudah sehat, tidak ada caries, gigi sudah dicabut 4 gigi untuk memberikan space gigi yang mau ditarik, akhirnya tibalah saat pemasangan.
Biaya behel konvensional : 8.500.000
Biaya alat dan pendaftaran : 42.000
Biaya dokter : free



Kontrol :
26 Sept 2015 : 292.000
17 Okt 2015 : 242.000
7 Nov 2015 : 330.000
28 Nov 2015 : 242.000
9 Jan 2016 : 350.000
30 Jan 2016 : 350.000
20 Feb 2016 : 400.000
12 Mar 2016 : 350.000
2 April 2016 : 246.000
23 April 2016 : 246.000
21 Mei 2016 : 246.000
11 Juni 2016 : 246.000
16 Juli 2016 : 246.000
6 Agust 2016 : 246.000
27 Agust 2016 : 246.000
17 Sept 2016 : 350.000
Total biaya kontrol selama 1 tahun : 4.628.000


Mungkin kalian bingung ya kenapa biaya kontrolnya beda-beda. Normalnya biaya kontrol itu 350.000. Kebanyakan dari biaya kontrol saya kurang dari 350.000 karena saya diberikan FOC (free of charge) biaya dokter. Saya tidak tahu mengenai FOC ini apakah diberikan ke pasien lain juga atau hanya pasien tertentu saja seperti saya. Yang pasti sih, rajin-rajinlah kontrol biar dokternya juga semangat membenahi gigi kamu. Jangan ilang-ilangan setelah gigi sudah rapi. Komitmen dengan diri sendiri dan tuntaskan hingga selesai. Oke?

Kalau saya rangkum menjadi seperti ini :
Persiapan pemasangan behel : 3.363.283
Pemasangan behel : 8.542.000
Kontrol selama setahun : 4.628.000
Total dari persiapan sampai kontrol 1 tahun : 16.533.283

Biaya di atas belum semuanya karena kemungkinan misalnya saya masih harus kontrol selama 1 tahun lagi sampai saya lepas behel, dana yang dikeluarkan kemungkinan kurang lebih 20 juta.

Terakhir kontrol kemarin, saya bertanya ke dokter mengenai biaya pemasangan behel tahun 2016. Ternyata untuk di Rumah Sakit Mulia harganya yang tadinya 8.500.000 sudah naik menjadi 9.500.000. Selama setahun ini naik 1 juta. Katanya, kalau kasus giginya bener-bener ringan masih bisa di angka 8.500.000. Untuk kasus yang agak parah minimal 9.500.000. Dokter Andi praktek di hari Jumat malam dan sabtu pagi jam 10 sampai jam 12 siang.

Selain di Bogor, dokter Andi juga praktek di Rumah Sakit Azra Padjajaran Bogor di hari senin dan selasa. Tapi harganya lebih mahal 500.000 sampai 1.000.000 dari RS. Mulia untuk biaya behelnya. Sedangkan yang paling murah adalah di RS. Marzuki Mahdi. Dokter Andi praktek di hari rabu dan kamis di RS ini, tapi hanya di pagi hari saja. Karena RS pemerintah, harganya 7.800.000 untuk biaya behelnya. Semua kasus sama. Mau parah atau ringan tetap harganya segitu karena di subsidi oleh pemerintah. Tapi ada harga yang harus dibayar karena yang sekolah harus izin dan yang kerja harus cuti serta yang daftar banyak karena murah. Biaya kontrol dan alatnya juga lebih murah pastinya. Tapi, dokternya juga agak sebel. Karena kebanyakan pasien hanya pasang saja di RS. Marzuki Mahdi biar dapat murah. Sedangkan kontrol mereka lebih banyak ke RS. Mulia karena ada jadwal Jumat malam dan sabtu. Harusnya kalau kamu pasang di RS. Marzuki Mahdi, kamu juga harus kontrol di RS itu. Tapi, dokternya juga kadang kasian sama pasien daripada mereka tidak kontrol, lebih baik kontrol tapi beda RS. Cuma, kalian akan di charge dengan biaya lebih mahal. Karena alat yang digunakan untuk kalian itu menggunakan alat dari dokternya sendiri bukan dari RS Mulia. Yang bisa menggunakan alat dari RS Mulia hanya pasien yang memang pasang dari awal di sana. So, kalau dihitung-hitung sebenarnya sama saja. Kamu dapat harga lebih murah saat pasang, tapi akan di charge tinggi setiap kontrol. Dan kontrol itu bukan sekali dua kali tapi puluhan kali. Jadi, kalau kamu cerdas, mungkin akan lebih murah kalau kamu bayar sedikit lebih mahal saat pertama kali pasang dan terjangkau saat kontrol.

Sekarang saya juga agak risih setiap kontrol di RS. Mulia pasien dokter Andi sekarang membludak. Saya harus menunggu sampai 2 jam baru dapat giliran. Beda dengan dulu saya tidak perlu menunggu lama. Mungkin karena sebagian besar pasien dokter Andi sekarang kontrolnya di RS. Mulia. Enjoy ajalah :)



Note untuk bingkisan di atas : Dikasih soevenir dari dokter. Katanya sebagai ucapan terima kasih sudah menjadi pasien paling teladan dan behelnya tidak pernah lepas :) Terima kasih dokter :)

Posted by: caecilia
CS.Com Updated at: September 18, 2016

June 29, 2016

Progress Behelku

Berhubung banyak yang menanyakan perkembangan kawat gigi saya dan permintaan readers juga, ada yang email, ada yang komen *berasa dikejar-kejar* akhirnya saya putuskan untuk share mengenai perkembangannya di tulisan ini. Sebenarnya saya mau posting lagi setelah lepas behel, tapi banyak yang sudah tidak sabar, jadi akan saya posting sekarang.

Pertama kali pasang behel itu akhir Agustus 2015 – saat tulisan ini di publish (29 Juni 2016) berarti sudah 10 bulan ya.

Perkembangan gigi saya itu termasuk cepat. Kalau kalian membaca postingan saya sebelumnya, saya sudah menjelaskan permasalahan gigi saya :
  • Rahang bawah berantakan
  • Rahang atas tumbuh miring ke kiri lumayan parah
  • Gigi taring di rahang atas bagian kiri tidak muncul dan tumbuh di langit-langit mulut. Hanya timbul sedikit di langit-langit mulutnya
  • Gigi 5 di rahang bawah bagian kanan tumbuhnya miring (posisi tidur)

Setelah 5 bulan pasang, before dan afternya bisa kalian lihat di foto di bawah ini. Beforenya itu setelah saya sudah cabut 4 gigi di rahang atas dan bawah kiri kanan. Yang dicabut semuanya gigi 4 (sebelah taring). Perbedaannya cukup jelas ya, rahang bawah sudah mulai rapi, posisinya rahang atas sudah lumayan simetris dan tidak miring ke kiri lagi, taring atas bagian kiri sudah mulai keluar giginya ditarik dari dalem.


Setelah 10 bulan, bisa dilihat di foto di bawah. Karet yang terlihat di kiri dan kanan itu adalah karet elastis untuk menarik gigi ke belakang. Setiap hari saya harus mengganti karetnya dan wajib dipakai terus walaupun sedang makan. Kurang nyaman sebenarnya karena gerakan mulut jadi terbatas. Saya tidak bisa membuka mulut sdengan leluasa dan lebar-lebar karena karetnya pasti akan putus. Yang paling susah adalah ketika menyikat gigi dan makan karena karetnya sering putus saat saya sedang melakukan dua kegiatan tersebut. Karet ini baru mulai dipakai setelah konsul di bulan yang ke-10.




Gigi taringnya sudah mulai turun dan posisinya hampir mendekati sempurna. Masih sedikit miring karena waktu ditarik dari dalam, posisinya agak susah diatur. Sejak bulan ke-6, si gigi taring ini sudah mulai dipasangkan kawat dari luar dan yang di dalamnya di lepas.

Gigi 5 yang posisinya tidur sudah berdiri tegak sejejar sama gigi yang lain. Maaf, untuk gigi 5 saya lupa foto beforenya. Sekarang tinggal menaikan gigi di rahang atas supaya gigi kelincinya bisa sejajar sama gigi disebelahnya dan setelah itu tinggal dirapikan saja semuanya agar simetris (terakhir). Simetris itu pada saat menggigit, posisi gigi atas dan bawah ketemu dan bisa mengunyah dengan sempurna. Kalau untuk space gigi yang bolong karena dicabut 4 gigi sudah hampir tertutup semua. Tinggal ada sedikit lagi space yang harus ditarik di rahang bawah dan sedikit di rahang atas supaya rapat dan tidak renggang.

Mungkin, sesuai prediksi 1,5 tahun bakalan lepas behel kalau progessnya secepat itu. Mudah-mudahan ya. Nanti kalau lepas behel saya pasti akan posting lagi pasti plus gambar before after dengan judul, “Menuju Senyum Pepsodent!” *ehh kayak iklan ya* LOL.

Cepat karena saya kontrolnya 3 minggu sekali. Kalau mau cepat disarankan kontrol 3 minggu sekali.

Kalau ada yang bilang setelah pakai behel posisi rahang berubah, mungkin ada benernya ya. Soalnya sebagian besar teman bilang saya "pangling", agak tirusan, bla bla bla. Mungkin efek pakai behel, posisi giginya berubah dan rahangnya juga ikut menyesuaikan *edisi sotoy* haha. Tapi, saya pribadi memang merasakan perubahannya. Agak berbeda memang.

Saya cukup puas dengan perubahannya dan terima kasih banyak buat dokter Andi. Selama control, dokter Andi selalu memberikan kepuasan atas pertanyaan saya, mau mendengarkan saran dan keluhan saya. Saya bersyukur ditangani oleh dokter Andi yang memang tulus membantu pasiennya dan tidak money oriented.

Oia, next saya akan share berapa dana yang sudah saya habiskan mulai sebelum pasang behel hingga saat ini. Struknya masih lengkap dan selalu saya simpan di satu kotak khusus. Sengaja, biar nanti pada saat lepas behel bisa tahu berapa dana yang sudah saya keluarkan. Mungkin di postingan berikutnya ya.
Posted by: caecilia
CS.Com Updated at: June 29, 2016

August 24, 2015

Pasang Kawat Gigi Part 2

Sabtu kemarin saya kembali ke RS Mulia untuk cabut 2 gigi lagi di sebelah kiri. Proses cabut 3 gigi yang lainnya lancar-lancar saja kecuali gigi yang ini. Dilihat dari hasil rontgen, dokternya bilang harus lebih sabar dengan gigi yang ini. Soalnya gigi yang harus dicabut itu berdempetan dengan gigi 5 dan gigi taring dibelakangnya. Jadi, ruang bagi gigi 4 ini buat keluar tidak banyak. Waktu digoyang rasanya sakit karena bergesekan dengan akar gigi yang lain. Si dokternya berkali-kali menenangkan saya, "Maaf ya mbak. Harus sabar soalnya akarnya berdempetan. Ditarik pelan-pelan kok." Dan setelah berhasil ditarik keluar pelan-pelan, rasanya itu LEGA.

Dr. Mia mengingatkan kalau ada keluhan apa-apa untuk segera konsul sama dia sabtu depan sebelum ke dr. Andi. Dia khawatir dengan gigi atas yang berdempetan sama taring itu. Tapi, semoga saja tidak terjadi apa-apa. Saya diberikan resep obat dan alkohol buat kumur-kumur. Semua permasalahan gigi saya sudah tuntas dan sabtu depannya lagi saya sudah janji dengan dr. Andi buat pasang bracketnya.

Nah, tibalah hari di mana saya harus pasang bracketnya. Bisa dibilang pemasangannya lancar-lancar saja. Waktu dipasang sih tidak terasa sakit yang berarti. Penderitaannya dimulai ketika sudah selesai dipasang. Dan sekarang saya merasakan penderitaan orang yang pakai behel. Bukannya mau menakuti kalian ya, tapi ini benar terjadi lho. Seminggu pertama setelah pakai behel itu saya menderita sengsara. Gigi saya ngilu di mana-mana, sariawan parah ditusuk-tusuk kawat, tidak bisa mengunyah karena kalau kena makanan rasanya beuhhh. Tidak bisa saya ungkapkan dengan kata-kata lagi saking sakitnya. Saya hanya bisa makan yang lembek-lembek saja seperti roti. Itupun dicelupkan ke air dulu biar lembek. Bisa makan bubur dan itupun langsung telen. Tidak boleh makan yang keras-keras kalau anjuran dokter. Gimana mau makan yang keras, mau buka mulut saja sakit apalagi makan. Saya salut lho dengan orang yang pakai behel hanya untuk mengikuti trend.

Harus kontrol sebulan sekali. Tapi kata dokter kalau mau 3 minggu sekali lebih bagus karena nanti hasilnya akan lebih cepat juga. Karena saya orangnya tidak sabaran, mungkin saya akan kontrol 3 minggu sekali. Masalahnya sekarang gigi saya sudah dicabut 4 biji. Susah ngomong apalagi kalau nyengir pasti keliatan gigi saya ompong. Sekarang saya fix tidak bisa senyum. Kalau senyum jadinya aneh, LOL.

Semoga masa adaptasi saya bisa cepat. Saya sudah menginvestasikan waktu, biaya dan tenaga untuk behel ini. Saya harap semuanya bisa berjalan dengan lancar dan saya juga berharap hasilnya ada dan tidak mengecewakan. Amin.
Posted by: caecilia
CS.Com Updated at: August 24, 2015

August 3, 2015

Pasang Kawat Gigi / Behel Part 1

Setelah berbulan-bulan menunda keinginan pasang behel, akhirnya sabtu kemarin saya pergi ke dokter ortho di RS. Mulia Bogor dengan dokter Andi. Saya memilih Rumah Sakit karena lebih terjamin. Saya sudah melakukan survey di google dan ternyata lumayan banyak yang merekomendasikan dr. Andi. Dia praktek di Rumah Sakit Marzuki Mahdi, Azra, dan Mulia. Sebenarnya di Marzuki Mahdi itu lebih murah bracketnya karena Rumah Sakit pemerintah. Tapi prakteknya hanya hari kerja saja. Rumah sakitnya nyaman, bersih, ruang tunggunya nyaman dan pasiennya tidak terlalu banyak.

Karena harus ada 4 gigi yang dicabut, pemasangannya akan dilakukan kira-kira 3 minggu lagi setelah permasalahan gigi saya selesai. Sesuai prediksi, saya yakin ada 4 gigi yang harus dicabut dan saya pun bisa menebak dengan tepat gigi mana yang dicabut. Saya bersyukur gigi taring saya yang tumbuh miring ke dalam langit-langit mulut ternyata masih bisa diselamatkan. Posisinya nanti akan dikembalikan ke posisi seharusnya.

Gigi saya dicetak oleh dokter Andi, lalu langsung diantar perawat ke ruang radiologi buat rontgen. Setelah rontgen, saya kembali dicek dokter Andi. Lagi-lagi saya bersyukur karena tidak ada gigi yang harus dibedah. Biasanya gigi bungsu itu suka tumbuh miring-miring dan untuk mengeluarkannya tidak bisa dicabut begitu saja tapi harus dibedah. Setelah dicek hasil rontgennya, saya dipasangkan ring di sela-sela gigi geraham atas dan bawah biar nanti waktu pemasangan behelnya lebih mudah. 

Kenapa gigi saya sampai dicabut 4 biji? Karena mau memberikan space buat gigi taring kiri, jadinya gigi 4 dicabut. Kalau atasnya cabut otomatis gigi 4 dibawahnya dicabut karena harus simetris. Gigi 4 atas bawah di kanan dicabut juga untuk memberikan space gigi yang mau digeser ke kanan.

Lamanya pemakaian behel berkisar antara 18 hingga 24 bulan kata dr. Andi. Tapi tidak menutup kemungkinan bisa lebih cepat atau lebih lama tergantung kasusnya dan juga tergantung seberapa rajin pasien mengontrol giginya.

Nah, yang paling ditunggu-tunggu pasti biaya berapa sih? Tiap orang tuh beda-beda. Di sini, saya hanya memberikan gambaran umum saja. Untuk kasus gigi saya ini akan menggunakan behel konvensional, behel yang umumnya digunakan. Ada beberapa jenis behel. Ada damon, dan sebagainya. Untuk kasus saya yang kata dokternya tidak parah cukup menggunakan yang konvensional. Damon hanya digunakan untuk kasus yang parah giginya dan harganya dua kali lipat.

Rincian Biayanya :

Cetak gigi : RP 150.000,-

Rontgen panoramic dan cephalometri : Rp 300.000,-

Untuk behel : Rp 8.500.000,- (bayar setelah selesai pasang)

Estimasi untuk biaya cabut 4 gigi : Rp 1.600.000,-

Estimasi tambal gigi : Rp 1.200.000,-

Kurang lebih sekitar 12 jutaan.

Mahal ya? Temen saya shock mendengar biayanya. Katanya dengan harga segitu sudah bisa membeli motor, hahaha.

Saya punya prinsip, kalau menginginkan kualitas yang lebih baik, jangan pelit untuk mengeluarkan biayanya. Toh ini untuk diri kita sendiri dan hasilnya bisa dinikmati seumur hidup. Saya rasa harga segitu worth it. Atau mau pilih yang harganya 3 juta. Ada kok. Banyak malah. Tapi, jangan kecewa dengan hasilnya. Jangan pernah mimpi dengan harga murah bisa mendapatkan hasil yang maksimal.

Saya sempat bertanya kepada dokter Andi kenapa banyak di luar sana pemakaian behel hanya berkisar 3 juta dan sebagian besar teman saya juga hanya berkisar tarif tersebut. Dokter Andi kaget. Katanya untuk RSGM UI saja yang kategorinya itu dokter yang masih magang harganya sudah minimal 6 juta. Tidak mungkin harganya bisa lebih murah dari itu. Kalau lebih murah sebaiknya kalian hati-hati. Kualitas kawatnya bisa dipertanggungjawabkan apa tidak? Dan jangan lupa ya, untuk pemasangan kawat gigi hanya dokter yang bergelar spesialis Orthodonti yang boleh melakukan pemasangan behel.
Posted by: caecilia
CS.Com Updated at: August 03, 2015

May 11, 2015

Gigi Taring yang Impaksi

Sabtu kemarin saya pergi ke salah satu Rumah Sakit di Bogor. Rencana awalnya saya mau langsung di operasi. Operasi kecil namanya karena gigi yang impaksi tidak bisa langsung dicabut begitu saja. Sebelumnya saya sudah pernah menulis di postingan yang sebelumnya kalau gigi taring saya yang sebelah kiri atas tidak keluar karena tumbuh sebagian ke dalam langit-langit mulut. Dokter yang di Meridien, beliau memprediksi bahwa gigi ini tidak bisa di ortho (kawat gigi/behel) karena tumbuhnya ke langit-langit mulut. Yang biasanya bisa ditarik itu adalah gigi taring yang gingsul yang tumbuhnya di atas gusi. Saya tidak begitu yakin dan akhirnya saya browsing-browsing lagi. Setelah baca, memang katanya tidak semuanya gigi taring itu bisa diselamatkan dengan behel. Kondisi gigi yang horizontal biasanya memang jalan satu-satunya itu harus di operasi.

Setelah browsing sana-sini, saya akhirnya pergi ke dokter spesialis bedah mulut di RS. PMI Bogor. Untuk kasus impaksi gigi ini tidak bisa dikerjakan oleh dokter gigi biasa. Saya pilih RS. PMI karena dekat dengan rumah. Di sana, bisa pilih mau ke Poliklinik Afiat atau Poliklinik Reguler. Yang Afiat lebih mahal tarifnya. Yang Reguler lebih murah. 

Karena untuk biaya operasi gigi ini pastinya mahal bisa jutaan, akhirnya saya pilih yang reguler saja. Poliklinik Afiat letaknya di depan. Tempatnya lebih bersih, nyaman, dan tentunya lebih sepi karena lebih mahal. Saya sempat bingung karena kesulitan menemukan poliklinik reguler. Ternyata letaknya di pojokan. Dan orangnya sangat crowded. Tempat duduk yang disediakan penuh semua hingga yang bediri dan duduk di lantai juga banyak. Kenapa di poliklinik reguler ramai? karena di sini menerima BPJS juga. Yang Afiat tidak. Pantess! Saya sebelumnya juga mempertimbangkan untuk menggunakan BPJS. Tapi, setelah saya baca-baca, pelayanan yang pakai BPJS dengan yang tidak pakai BPJS itu berbeda. Belum lagi kalau pakai BPJS itu harus ke puskesmas dulu, baru minta rujukan ke RS. Terus ditambah lagi prosedurnya yang ribet. Suruh ke sana sini, fotokopi ini itu, dan katanya ngantrinya itu bisa berjam-jam kalau pakai BPJS. Makanya saya memutuskan untuk mengantri pendaftaran dokter di loket 1 (loket umum). Tidak lama karena hanya beberapa orang saja.  Dan ketika saya menoleh ke antrian bpjs, tersedia beberapa loket dan penuh. 

Ketika tiba giliran saya dipanggil, saya diperiksa disuruh tiduran oleh dokternya. Setelah itu kami mengobrol biasa. Dia bertanya apakah saya ada niat mau di ortho? Kalau mau di ortho tidak perlu dicabut. Kalau tidak mau di ortho, harus di operasi kecil. Tidak bisa dicabut begitu saja karena tertanam di langit-langit mulut. Kalau seandainya di ortho, dokternya bilang itu bisa ditarik dan sebagai gantinya gigi lain yang dicabut. Gigi taring itu gigi estetik yang sebaiknya dipertahankan. 

Dari awal saya memang ada keinginan untuk perawatan orthodonthi (behel/kawat gigi). Dokternya juga menyarankan agar gigi saya sebaiknya di ortho, jadi tidak perlu dikorbankan gigi taring ini. Dia menyarankan untuk pergi ke dokter spesialis ortho biar nanti perawatannya bisa maksimal. Dokternya baik, bisa diajak konsultasi, ramah dan tidak seperti dokter yang lain yang maunya buru-buru mengusir pasien keluar. Perawatnya juga ramah. Beda dengan petugas loket yang di depan yang semuanya memasang tampang jutek. 

Oh iya, untuk biaya operasi kecil itu 2,5 juta. Dokternya malah menganjurkan saya untuk daftar BPJS saja biar nanti tidak perlu bayar kalau memang giginya mau di operasi. Tapi harus mengantri operasinya dan dia  memperlihatkan list pasien yang mau operasi gigi. Bisa dapat giliran bulan Juni katanya. 

Setelah konsultasi selesai, saya mendapatkan pencerahan. Memang seharusnya saya itu konsul dulu ke dokter ortho bukannya langsung pergi ke dokter bedah. Yaaa sudahlah. Saya hanya membayar biaya dokter 50 ribu dan biaya daftar 25 ribu. Setelah itu pulanglah saya dengan perasaan lega :))

Posted by: caecilia
CS.Com Updated at: May 11, 2015

Biaya Perawatan Saluran Akar (Saraf)

Guys, di sini saya mau melanjutkan cerita saya tentang Perawatan Saluran Akar Gigi 47 selama 1,5 bulan. 

Total 5 kali kunjungan. 

Kunjungan pertama  dan kedua bisa kalian baca di postingan sebelumnya. Saya tidak akan mencantumkan linknya. 

Kunjungan ketiga : 

Saraf gigi saya sudah dalam kondisi mati. Waktu di bor dan dicolok-colok oleh dokternya sudah tidak terasa sakit sama sekali. Kata dokternya perkembangannya cukup bagus. Karena banyak yang masih suka ngilu ditahap ini. Nah, di sini gigi saya dibersihkan sampai ke akar-akarnya dan dikasih obat. Biayanya 400k. Diminta balik seminggu lagi.

Kunjungan keempat : 

Mengulang proses yang sama seperti kunjungan ketiga. Bedanya yang ini dikasih tambalan sementara yang bentuknya pasta dan diminta balik 2 minggu lagi. Biayanya 350k.

Kunjungan kelima :

Akhirnya gigi saya ditambal permanen dengan bahan tambalan GIC + R. Komposit. Biayanya 500k.

Total biaya perawatan saluran akar gigi geraham saya (gigi 47) ini menghabiskan biaya sebesar Rp 1.650.000,- untuk 1 gigi selama 5 kali kunjungan dengan total waktu 1,5 bulan.

Selain gigi 47, saya juga tambal permanen gigi 26 yang bisa langsung dikerjakan dalam 1 kali kunjungan karena bolongnya kecil. Biayanya 400k. 

So, biaya yang saya habiskan untuk perawatan gigi di Meridien Dental Clinic sebesar Rp 2.050.000,- Nyesek yah. Ini belum sama yang saya berobat di RSGM UI dan juga RS. PMI. 

Secara keseluruhan, saya puas sih dengan pelayanan di sini. Mbak-mbaknya semuanya ramah, dokternya juga baik. Tempatnya nyaman, bersih. Bisa buat perjanjian dan nanti juga diingatkan oleh mbaknya di hari H. Tidak perlu mengantri lama karena kita masuk sesuai jam yang kita jadwalkan sebelumnya. Kalaupun harus menunggu paling sebentar saja. Yang membuat saya keberatan hanya satu. MAHAL. Tapi harga berbanding lurus dengan pelayanannya. 

Oh iya, biaya ini jangan dijadikan patokan ya. Setiap kilnik, RS, atau bahkan di tempat praktek pribadi yang di rumah juga harganya pasti beda-beda. Semakin bagus kualitasnya akan semakin mahal tentunya. 

Kalau mau murah, saran saya pergi ke RSGM UI yang di Salemba. Tapi harus sabar karena ini yang mengerjakan mahasiswa UI dan hanya hari kerja saja. Terus kalau mau murah dan kualitas masih bisa dipertanggungjawabkan pergi ke RS Pemerintah. Tapi jangan heran kalau petugasnya agak jutek dan mengantrinya lama. Semakin murah semakin ramai yang pergi, right? 
Posted by: caecilia
CS.Com Updated at: May 11, 2015

March 30, 2015

Perawatan Saluran Akar Part 2

Jumat kemarin, saya kembali lagi ke dokter gigi yang di Merdien untuk perawatan minggu kedua. Selama seminggu ini memang saya tidak ada keluhan dan tidak ada sakit sama sekali. Tapi ketika gigi saya dibor, masih terasa sedikit ngilu. Oleh dokternya akhirnya saya diberikan obat yang lebih keras dari minggu lalu untuk mematikan syarafnya. 

Setelah itu gigi saya kembali ditambal sementara dan terasa nyut-nyutan. Oh iya, saya juga konsultasi mengenai gigi taring saya yang kiri atas tumbuh ke dalam gusi. Saya pikir dokternya sudah mengetahui kondisi gigi taring saya itu. Ternyata setelah saya tanya, dia baru mengecek dan baru menyadari bahwa ada gigi taring saya yang tidak muncul. Saya bertanya apakah gigi ini bisa diselamatkan dengan behel. Katanya tidak bisa karena yang tumbuh keluar hanya sedikit saja. Dan saya harus ke dokter bedah mulut untuk mencabut giginya. Jadi tidak bisa dicabut begitu saja dan harus dilakukan operasi kecil untuk mengeluarkan giginya yang tertanam di gusi. 

Saya masih antara yakin dan tidak yakin dengan jawaban dokternya. Untuk memastikan saya akan konsul dengan dokter ortho. Kalau seandainya memang tidak bisa dikembalikan posisinya, saya worry kalau gigi taring di bawahnya juga harus dicabut demi kepentingan pemasangan behel nantinya.

Dokter gigi saya ini juga memasang behel lho ternyata. Saya iseng bertanya mengenai harganya. Sekitar 8 - 12 juta. Tapi kalau untuk kasus saya tidak mungkin 8 juta katanya. Woww banget yah. Padahal dia bukan dokter ortho tapi kok tarifnya sama kayak dokter ortho.Tapi terserah juga sih toh saya mau memasang dengan dokter ortho bukan dokter gigi umum.

Perawatan saluran akar kedua tarifnya masih sama seperti minggu lalu yaitu 200k. Total yang sudah saya habiskan untuk perawatan gigi selama sebulan ini sebesar 1 juta rupiah. Makanya guys, saya ingatkan lagi ya, sebelum gigi kalian harus memakan biaya lebih banyak, sebaiknya tuntaskan permasalahan gigi kalian di dokter gigi secepatnya dan rajin-rajinlah merawat gigi mulai sekarang.
Posted by: caecilia
CS.Com Updated at: March 30, 2015

March 22, 2015

Perawatan Saluran Akar Part 1

Hari Jumat kemarin, saya pergi ke dokter gigi lagi. Tapi kali ini saya tidak pergi ke RSGM FKG UI karena jauh dan akhirnya memilih yang dekat kantor. Namanya Meridien Clinic. Kesan pertamanya, nih clinic oke juga. Bersih, nyaman, mewah, elegan. Dokter yang praktek kebetulan cewek dan dia ditemani dua asisten cewek dan cowok. Saya diminta tiduran dan dokternya menanyakan ada keluhan apa.

Saya jawab, "gigi berlubang, dok."

Gigi saya yang berlubang tinggal satu yang belum dilakukan penambalan. Sebelumnya gigi 36 sudah ditambal oleh mbak mahasiswa di UI. Sekalinya diperiksa sama nih dokter, katanya gigi saya yang berlubang bukan cuma satu. Saya sampai heran karena yang terlihat oleh mata saya hanya satu.

Dokternya bilang, "Memang ga keliatan tapi kalo ditusuk pake alat ada lubangnya. Ini coba kamu liat, saya tusuk begini nyangkut nih alatnya." Benar ada yang nyangkut dan memang berlubang tapi saya tidak paham lubangnya ada di mana. Dokter bilang harus ditambal walaupun masih kecil. Kalau dibiarkan nanti bisa semakin besar. Ya sudah akhirnya saya langsung minta dokter tambal permanen hari itu juga. Di bor sebentar, di sinar, dan selesai.

Nah, gigi bagian bawah yang bermasalah itu, dia sebelumnya bertanya pada saya,  "ada keluhan pusing, sakit kepala, atau sakit sampai nyut-nyutan?" Jawaban saya tidak pernah. Paling dulu pernah ngilu kalau kena makanan kalau sedang mengunyah. Makanya sekarang saya mengunyah menggunakan gigi kiri saja. Mendengar keluhan saya, dokter bilang harusnya langsung bisa ditambal permanen. Di bor sama dia. Tapi kok saya merasakan ngilu. Karena melihat saya mulai ngilu, dokternya bilang sudah kena syaraf dan harus perawatan saluran akar dulu selama 4-5 kali kunjungan. Persis seperti kata dokter dan mbak mahasiswa di UI. Gigi saya ternyata harus perawatan saluran akar.

Saya diberikan obat di gigi dan ditambal sementara dan balik lagi seminggu kemudian. Dokternya juga heran, kasus yang kena syaraf gitu biasanya kalau di bor itu sampai teriak-teriak saking sakitnya dan sering mengeluh pusing, sakit kepala. Sedangkan saya tidak pernah ada keluhan dan bahkan seumur hidup belum pernah merasakan yang namanya sakit gigi.

Waktu bayar saya agak kaget. Tambal sementara gigi 47 seharga 200k. Tambal R. Komposit gigi 26 adalah 400k. Saya tidak bawa cash dan untungnya saya bawa CC. Mahal ya. Tapi memang sih keliatan nih dokternya rapi kerjanya. Mungkin karena faktor tempat juga ya. BSD mana ada yang murah? 

Kembali ke masalah gigi. Sebaiknya, sebelum gigi kalian harus mengeluarkan uang yang lebih banyak, lakukan perawatan gigi kalian mulai sekarang. Rajin-rajin bersihkan karang gigi, periksa gigi setiap 6 bulan sekali. Belakangan ini saya konsen dengan masalah gigi dan saya mau berkomitmen mulai sekarang harus rutin ke dokter gigi setiap 6 bulan daripada nanti saya harus mengeluarkan yang lebih banyak lagi karena gigi rusak dan parahnya lagi harus dicabut. 

Dulu itu saya takut ke dokter gigi karena mendengar keluarga, teman, saudara yang cerita kalau cabut gigi, tambal dan segala yang dikerjakan dokter itu sakit. Bahkan sampai ada yang menangis dan teriak. Saya sendiri sudah ditambal dua gigi permanen dan tidak merasakan sakit yang berarti. Harusnya kalau giginya masih sakit tidak boleh langsung di bor. Perawatan dulu sampai tidak terasa sakit, baru nanti di bor dan kamu tidak akan merasakan apa-apa saat di bor. Makanya, mulai sekarang hilangkan image kalau ke dokter gigi itu menakutkan. Trust me😊
Posted by: caecilia
CS.Com Updated at: March 22, 2015

March 10, 2015

Perawatan Gigi di RSGM FKG UI (Part 2)

Kalau mau baca perawatan sebelumnya silahkan scroll. Saya tidak akan mencantumkan linknya.

Tanggal 9 Maret 2015 saya kembali ke RSGM FKG UI untuk kedua kalinya. Sebelumnya, saya sudah janjian dengan mbak yang menangani saya beberapa hari sebelumnya agar mbaknya bisa booking dental unit untuk saya. Maklum ya dental unitnya terbatas.
Ketika tiba di RSGM UI jam 8 pagi sesuai janji, saya langsung diajak masuk dan diminta tiduran di dental unit yang sudah di booking atas nama saya. Mbaknya melepas tambalan sementaranya. Gigi geraham saya yang sebelah kanan terasa sangat ngilu ketika tambalan sementaranya dibuka.

Mbaknya curiga kalau gigi geraham kanan itu sudah terkena saraf. Untuk memastikan saya diminta rontgen dan minta surat pengantar dari dokter gigi di depan dan harus dikerjakan oleh dokter gigi yang mengambil spesialis dibidang konservasi dilantai dua. Yang bisa dikerjakan oleh mbaknya hanya gigi 36 di kiri. Yang kanan tidak boleh karena itu gigi paling belakang. Harus yang lebih ahli katanya. 

Gigi saya mulai dibersihkan dan di bor. Tidak sakit hanya sesekali terasa ngilu. Dan prosesnya itu lama. Yang membuat lama itu karena setiap kali mbaknya selesai bor harus di foto dulu, lalu dia harus mencari dokternya dulu minta acc. Dan si dokternya yang biasanya stand by di ruangan itu ternyata sedang meeting. Makanya saya lumayan lama menunggu si mbaknya bolak-balik. Jadi kalau dokternya bilang belum bersih, mbaknya bor gigi saya lagi, foto lagi, minta acc lagi, balik lagi. Sampai tak terhitung lagi banyaknya mbaknya bolak balik. 

Mbaknya minta maaf berkali-kali ke saya, katanya dia harus menunggu dokternya di luar ruangan karena dia tidak boleh mengetok ruangan itu saat ada meeting. Jadi dia hanya menunggu saja sampai dokternya keluar.

Setelah proses ngebor gigi saya yang memakan waktu sampai jam 1 siang, akhirnya dilanjutkan dengan menambal. Proses menambal pun tidak semudah yang saya kira. Ada beberapa tahap. Harus dilapisi dulu untuk melindungi saraf. Lalu di foto lagi dan minta acc berkali-kali lagi hingga akhirnya di approve oleh dokternya untuk dilanjutkan dengan proses menambal.

Oia,  lampu tempat mbaknya booking dental unit untuk saya itu tidak menyala. Akhirnya dia meminta bantuan temannya untuk menyenter gigi saya dengan lampu hp. Itu adalah salah satu kendala yang menghambat mbak ini mengerjakan gigi saya. Si mbaknya bilang di sini serba keterbatasan. Mbaknya tapi kreatif. Dia membawa sendiri alatnya.

Kamu bayangkan saja satu alat dipakai ramai-ramai bersama dengan pasien yang lain. Kalau disterilkan dulu sih oke. Tapi saya perhatikan tidak ada proses steril. Dan alat di sana itu sudah jelek, keliatan kotor, berantakan, dan tidak terurus. Semuanya serba terbatas. Bukti nyata kalau pemerintah itu tidak care dengan pendidikan kedokteran.

Bagi yang mau berobat ke sana, kalau kalian mengejar waktu dan tidak sabar, sebaiknya jangan ke sana.

Saya rencananya tidak akan ke sana lagi. Kapok. Capek kalau yang mengerjakannya harus bertanya terus ke dokternya. Yang seharusnya setengah jam bisa selesai malah jadi seharian seperti kasus saya. Dari pagi jam 8 sampai jam 3 sore baru selesai untuk satu gigi saja. Dan itupun belum sampai tahap pemolesan. 

Posted by: caecilia
CS.Com Updated at: March 10, 2015

March 2, 2015

Perawatan Gigi di RSGM FKG UI (Part 1)

Beberapa hari yang lalu saya perawatan gigi di Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) FKG UI. Tadinya saya mau scalling saja di klinik gigi dekat rumah. Tapi, setelah saya pikir-pikir lagi, saya mau merawat gigi secara keseluruhan.

Setelah browsing sana-sini, saya akhirnya menjatuhkan pilihan di RSGM FKG UI. Saya berangkat dari Bogor pagi-pagi dan tiba di sana sekitar jam 8. RSGM ini bukanya dari Senin -Jumat, Jam 8 sampai jam 1 siang. Sebaiknya datang pagi-pagi agar pelayanannya bisa maksimal. 

Oh iya, kalau mau bertanya ke satpam atau orang-orang di sana, bilangnya FKG ya. Soalnya saya bertanya letak RSGM malah diunjuk RSCM yang letaknya memang berdekatan.

Setelah daftar, saya menunggu giliran diperiksa oleh dokter giginya. Sekitar 30 menit, tibalah giliran saya. Setelah di periksa, saya dioper ke ruang Integrasi 2 untuk tindakan medis. 

Menunggu sekitar 15 menit, saya dipanggil oleh mbak yang menggunakan almamater biru (mahasiswa kedokteran). Mbak ini memeriksa gigi saya lagi dan kali ini lebih lama. Diperiksa dari ujung ke ujung. Sesekali sambil menulis di kertas medis atas masalah yang dia temukan di gigi saya. 

Dari hasil pemeriksaan itu, ada dua gigi saya yang harus ditambal. Tapi harus bertahap dan tidak bisa sekaligus. Saya juga menanyakan perihal tentang salah satu gigi di rahang atas saya yang tumbuh di langit-langit mulut. Kata mbaknya sebaiknya dikonsultasikan dengan dokter spesialis Orthodontis dulu apakah giginya bisa dikembalikan ke posisi seharusnya. Itu adalah gigi taring dan kondisi giginya masih bagus. Untuk mengembalikan posisi gigi taring, ada gigi geraham kecil yang harus dicabut karena tidak cukup tempat buat si gigi taring ini. 

Pemeriksaan selesai, dan dilanjutkan dengan scalling lalu tambal sementara untuk dua gigi geraham.

Harga scalling untuk kelas 1 cuma 45 ribu. Fyi, kelas 1 itu paling sedikit karang giginya. Kelas 2 yang lumayan banyak harganya 60 ribu. Sedangkan yang paling banyak karang giginya harganya 75 ribu untuk kelas 3. Dan untuk biaya pemeriksaan secara keseluruhannya cuma bayar 10 ribu saja. Sedangkan untuk biaya tambal sementara ini gratis. Saya hanya mengeluarkan 15 ribu untuk pendaftaran, 45 ribu buat scalling, dan 10 ribu buat pemeriksaan. Totalnya hanya habis 70 ribu.

Di sini, kamu tidak bisa datang ke sana hanya ingin tambal saja, atau cabut aja, atau scalling saja. Semua permasalahan gigi kamu harus diperbaiki dan dituntaskan sampai dalam kondisi sehat karena Rumah Sakit UI itu mementingkan kesehatan Gigi dan Mulut pasiennya.

Setelah selesai, saya pamit sama mbaknya. Kata mbaknya nanti dia akan mengontak saya untuk janjian di minggu berikutnya. Saya sempat bertanya untuk biaya tambal permanen hanya 40 ribu. Harga paling murah sejagat raya, LOL.

Saya juga mengorek tentang biaya pasang behel karena saya ada keinginan untuk menggunakan behel untuk merapikan gigi saya. Untuk biaya pasang behel di dokter mahasiswa yang mengambil spesialis Orthodontis di UI kisaran 6 – 8 juta. Harga segitu sudah yang paling murah juga seharusnya. Kenapa? Karena dokternya ini memberikan pelayanan free. Kita hanya membayar behelnya saja. Dokter gigi spesialis ini rela tidak dibayar karena mereka harus menangani minimal 20 pasien sampai tuntas hingga lulus sebagai dokter gigi ahli orthodontis.

Dan yang jadi pertanyaan saya sekarang adalah banyak beredar pemasangan behel yang murah di bawah 5 juta. Untuk ukuran UI yang dokternya rela tidak dibayar saja harganya minimal 6 juta lho. Kok bisa dokter gigi yang menghabiskan waktu 2-5 tahun untuk mendapatkan gelar Orthodontis mau dibayar dengan harga standar begitu. Biaya dia kuliah saja berapa. Belum lagi peralatannya. Dokter Spesialis Ortho pasti tidak akan menggunakan behel murahan karena itu mempertaruhkan nama baik dia juga.

Saran saya untuk teman-teman yang mau pasang behel, sebaiknya cari tahu dulu tentang dokter ortho kalian. Jangan sampai ada kejadian seperti temen saya yang pasang behel sampai 3x gara-gara giginya kembali berantakan setelah dua tahun lepas behel. Itu karena dia asal-asalan pilih dokter yang penting murah.

Posted by: caecilia
CS.Com Updated at: March 02, 2015
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...