April 23, 2014

Penipuan Kartu Diskon Visa / Martercard

Beberapa menit yang lalu saya ditelpon oleh seseorang yang mengaku bernama Mita dari BCA.  Dia menelpon ke kantor saya dan yang angkat adalah operator. Ketika disambung kan pada saya, saya agak bingung kenapa BCA menelpon saya dan akhirnya saya menerima panggilan tersebut. Kurang lebih percakapannya seperti ini :
Mita : Sore, dengan Ibu .... ?
Saya : Sore. Iya, saya sendiri.
Mita : Saya Mita dari BCA mau konfirmasi apakah kartu diskon ibu sudah diantar?
Saya : *bingung* kartu diskon? Belum.
Mita : Iya, jadi kartu diskon ini adalah pendamping kartu kredit Visa/Mastercad BCA ibu yang nantinya kartu diskon ini, ibu akan mendapatkan diskon 20% setiap kali pembelanjaan menggunakan kartu kredit. Dan ini ibu juga akan mendapatkan voucher menginap di hotel 2 hari untuk periode 1 tahun. Setiap tahun akan diberikan voucher menginap di hotel selama 5 tahun, tapi pengirimannya secara berkala. Ibu juga digratiskan biaya tahunan selama 5 tahun.

Padahal BCA hanya memberi saya gratis 1 tahun biaya iuran tahunan. Kalau setiap kali saya swipe kartu kredit saya dan langsung mendapatkan diskon 20% rasanya mustahil dan saya rasa BCA tidak sebodoh itu. Bukannya untung malah buntung.

Saya : Programnya dari kapan ya?
Mita : Baru tahun ini dan ibu kebetulan mendapatkan rekomendasi dari BCA untuk mendapatkan fasilitas eksklusif ini.
Terus dia menanyakan limit yang diberikan oleh BCA berapa? *masa iya dia tidak tahu limit saya? Katanya dari BCA* Dia juga bertanya alamat kantor saya di mana.

Saya simpulkan bahwa Mita ini hanya tahu saya mempunyai kartu kredit BCA dan kerja di PT. xxx plus nomor telepon hp dan kantor. Singkat cerita, saya tadinya hampir percaya sama si tukang tipu itu. Apalagi dari cara berbicaranya sangat fasih dan apa yang saya tanyakan bisa dijawab dengan lancar.

Nah, tiba-tiba dia menanyakan saya berada di kantor sampai jam berapa. Dia bilang nanti bakal ada yang datang mengantar kartu itu. Dan ujung-ujungnya ternyata saya diminta untuk deposit sebesar 3 juta untuk periode 5 tahun untuk mendapatkan program ini. Kalau pemakaiannya efektif uangnya akan dikembalikan. Dia juga bertanya apakah tagihan saya sudah datang atau belum. Sudah dibayar atau belum. Full payment atau minimum payment. *Katanya dari BCA kok tidak tahu.*

Terus pembicaraan selesai dan saya seperti orang tersesat dan kebingungan. Langsung saya browsing dan muncullah artikel yang menulis persis sama dengan kasus saya. Lalu saya telpon call center BCA dan mereka bilang tidak ada program kartu diskon. Dan call center BCA bilang, setiap kali ada yang mengaku dari BCA mengenai penawaran apapun atau program apapun, konfirmasi dulu dengan call center BCA 24 jam. Oke. Singkat cerita bapak itu juga bilang itu penipuan dan jangan percaya.

Abis telpon ditutup, saya langsung memikirkan kata-kata apa yang akan saya ucapkan ke si penipu yang datang. Saya berencana mengatakan seperti ini:
“Saya sudah telepon BCA dan mereka bilang tidak ada program kartu diskon. Dan jika Anda berani datang lagi ke sini mencari saya, saya akan laporkan Anda ke polisi dengan modus penipuan!”

But, kata-kata yang sudah saya rangkai dengan bagus itu ternyata tidak jadi terucap. Beberapa menit kemudian, ada telepon masuk di hp saya dengan nomor 021xxx. Tadinya menelpon ke kantor dan sekarang ke hp.
Saya : Halo *jutek*
Mbak Penipu : Sore, saya Nadine mau konfirmasi tadi sudah ditelpon sama Mbak Mita ya?
Saya : *YESSS!!!* Mbak, saya tidak tertarik dengan program diskon yang ditawarkan jadi ga usah dikirimkan.
Mbak Penipu : Kenapa Ibu?
Saya : Saya sudah telepon BCA dan mereka bilang tidak ada program seperti itu.
Mbak Penipu : Kami memang bukan dari BCA, tapi dari PT. Golden xxx (lupa).
Saya : Okeh, terserah ya mbak. Saya nggak mau. Pokoknya nggak, nggak, nggak!!!!

Tutttsssss tuttssss.
Pembicaraan selesai dan telepon langsung saya matikan.

Hati-hati ya. Jaman sekarang modus penipuan sangat banyak. Saya juga menyayangkan kalau data saya sampai tersebar ke mana-mana. Saya memang setiap hari ditelepon oleh marketing yang menawarkan asuransi, kartu kredit, pinjaman, KTA, sampai penipuan juga banyak. Dan mereka itu sangat annoying sampai memaksa.

Saran saya, kalau ada penawaran yang mencurigakan sebaiknya telepon saja call center bank yang bersangkutan dan jangan memberikan data apapun ke mereka mengenai kartu kredit kita. Hati-hati ya guys.

Posted by: caecilia
CS.Com Updated at: April 23, 2014

April 21, 2014

Dinamika Kelompok (FGD) BDP BCA

Berawal dari pagi yang cerah, penantian saya setelah dua minggu lebih akhirnya terjawab. Selama dua minggu ini saya memang was-was. Setiap kali ada telpon masuk di hp langsung grabak grubuk dan berkali-kali kecewa karena yang menelpon saya setiap hari dan ada-ada saja itu selalu dari marketing yang menawarkan kartu kredit, asuransi, pinjaman, fitness, dan segala macamnya. Dan tepatnya hari Selasa, 15 April 2014 jam 9 pagi saya ditelpon oleh BCA yang artinya saya diundang untuk Dinamika Kelompok hari Kamis di Wisma Asia I Slipi. YES!!

Sampailah di Hari H di mana saya pagi-pagi sudah sibuk bbm manager minta izin tidak masuk kerja dengan alasan sakit (yang ini jangan ditiru ya, hehe). Setibanya di sana, sudah cukup ramai. Tadinya saya pikir mereka adalah peserta dinamika kelompok juga. Ternyata saya salah. Itu orang-orang yang sign contract. Dan sekitar jam sembilan, akhirnya yang pada sign contract turun ke lantai 17. Sisa 7 orang yang artinya itu pasti teman diskusi nanti. Dan kita duduknya jauh-jauh selang-seling. Padahal niat saya dari awal setidaknya saya kenalan dulu sama mereka biar enak nanti diskusinya. Ketika ada seorang cewek yang saja kembali dari toilet dan dia duduk di samping saya, langsung saya ajak kenalan. Namanya Deasy. S1-nya UNTAR dan S2-nya di UGM. Dan saya langsung speechless. Wow. S2 di UGM pula. Dan dia mengambil Internal Audit sama seperti saya. Singkat cerita kami langsung akrab mengobrol banyak. Sampailah kami dipanggil masuk oleh bapak Riyanno yang memandu kami untuk FGD (Focus Discussion Group) atau dinamika kelompok.

Setelah itu, Pak Riyanno memberikan topik, “Kami adalah konsultan dan dipanggil oleh pemerintahan SBY untuk diminta masukan mengenai bagaimana cara mengatasi crowdednya Jakarta.”

Salah satu peserta yang bernama Sand* langsung mengeluarkan  pendapatnya mengenai Pembangunan Infrastruktur, dan bla-bla. Lalu masing-masing dari kami akhirnya mengeluarkan pendapat masing-masing. Dan yang paling dominan ini si Sand*. Intinya selama 15 menit diskusi itu topik yang menurut saya mudah itu jadi berbelit-belit di mana masing-masing masih tetap memberikan pendapat tanpa kesimpulan. Saya sebenarnya mau memotong diskusi kami dan mau mengarah pada kesimpulannya. Ehhh, tiba-tiba Pak Riyanno bilang waktunya habis dan tunjuk satu jubir. Omaigat!!! Nah yang ditunjuk adalah Sand* (bukan saya yang pilih tapi salah satu dari kami yang memilihnya dan yang dipilih oke-oke saja). Btw, kalau diskusi kami tadi ditambah waktu lagi mungkin bisa jadi karya ilmiah!

Akhirnya jubir mulai mempresentasikan dan ditanya-tanya oleh Pak Riyanno. Yang lain tidak boleh menjawab kecuali ditunjuk. Padahal saya sudah siap-siap kalau seandainya saya ditanya. Ternyata setelah dia menanyakan rekan di depan saya, diskusi kami langsung  selesai dan tidak jelas titik cerahnya. 

Kemudian, Ibu Helen mulai membagikan puzzle yang harus kami kerjakan dalam 15 menit. Kami hanya bisa menyelesaikan 15 puzzle. Ibu Helen menanyakan kenapa kami tidak bisa menyelesaikan puzzle itu. Kesulitannya di mana? Lagi-lagi si Sand* yang langsung buru-buru menjawab. Dia bilang banyak tangan-tangan yang mengerjakan itu jadinya ribet. Dan ada yang mengambil puzzle yang sudah dipasang tapi tidak dikembalikan ditempat semula. Busettttt!!!

Walaupun saya tidak  merasa melakukan apa yang dia bilang, tapi menurut saya tidak etis kalau dia menyalahkan teman kelompoknya. Terus Ibu Helen bilang, "jadi menurut kamu gimana? Ngerjain sendiri-sendiri aja?" Dia jawab, "satu orang aja yang nyusun puzzlenya."

Ibu Helen, "menurut kamu siapa yang bisa jadi koordinatornya?"
Dia jawab, "Mol*"

Akhirnya Ibu Helen bertanya kepada yang lain, "menurut yang lain gimana?"

Nah, saatnya saya mengacung. “Menurut saya, kerja sama antara kami bertujuh sudah cukup baik. Hanya saja kami kesulitan karena tidak tahu starting pointnya. Kami kesulitan menentukan mana puzzle yang harusnya dipinggir atau ditengah. Kami tidak tahu polanya dan bagaimana trik-trik mengerjakan puzzle ini.” Didukung oleh anggukan beberapa kepala yang setuju. Kemudian Ibu Helen bertanya lagi, “Menurut kamu, starting pointnya di mana?” saya jawab : “Menurut saya, puzzle yang ada lengkungan seperti ini (sambil megang salah satu puzzle), adalah dibagian pinggir. Tapi tidak tahu menurut pendapat teman-teman. Soalnya ini adalah kelompok dan harus berdasarkan keputusan bersama.”

Setelah itu, Ibu Helen memberikan waktu 10 menit lagi dan kami harus menyelesaikan 20 puzzle. Dan kami hanya bisa mengerjakan 16 puzzle.  Kali ini saya tidak menjawab dan memberikan kesempatan yang lain. Menurut saya kenapa kami tidak bisa menyelesaikan puzzle-nya karena terpaku dengan pola awal yang sudah dibuat. Padahal tidak menutup kemungkinan, pola pinggir yang kami susun adalah salah dan malah bisa berada ditengah. Saya melihat ada yang salah dengan pola puzzle kami. Saya menyarankan untuk bongkar saja tapi mereka tidak berani ambil resiko. Jadi, tambahan waktu 10 menit itu kami hanya melanjutkan pola pertama tanpa mengubahnya. Padahal sudah jelas sisa puzzle nya itu sudah tidak bisa di sambung ke mana-mana lagi yang artinya polanya salah. Kalau saya yang susun, saya sudah bongkar. 10 menit itu lama lho. Dan walaupun tidak selesai setidaknya saya puas karena sudah mencoba membongkarnya. 

Setelah itu, Pak Riyanno menjelaskan tentang BDP dan kami diminta menunggu di depan sekitar 10 menit untuk melihat siapa yang lolos. 

Dan yang lolos ternyata 5 orang termasuk saya.

Tips-tips buat yang mau FGD :
  1. Jangan terlalu dominan dan kasih kesempatan yang lain bicara
  2. Perhatikan saat teman sedang mengeluarkan pendapat
  3. Jangan terlalu pasif
  4. Lebih baik jarang bicara, tapi sekalinya memberikan pendapat membuat yang lain WAWWW!!
  5. Hargai pendapat teman dan jangan malah menyerang teman sendiri (Ini diskusi kelompok bukan debat)
  6. Tunjuk jubir dengan benar bukan berdasarkan dominannya dia tapi pemikirannya biasa-biasa saja (Kalau Jubirnya bisa mempresentasikan dan menjawab pertanyaan Pak Riyanno dengan baik, artinya kelompok kita akan dinilai baik)
  7. Saat puzzle, hati-hati saat bicara
  8. Jangan menyalahkan teman kalau tidak bisa menyelesaikan puzzlenya 
  9. Banyak-banyak baca tentang pengetahuan umum

Nah, terus kami diminta mengisi formulir dalam jumlah banyak. Sambil mengisi formulir kami kenalan dan langsung akrab. Kami makan siang bersama berlima dilantai 7. Jam 1 kembali lagi ke lantai 21 untuk menunggu interview. Mereka itu ternyata gokil-gokil anaknya. 

Sampailah akhirnya saya dipanggil interview hrd. Sama ibu-ibu cantik dan masih muda. Saya lupa menanyakan namanya dan dia tidak memperkenalkan diri. Kalau dalam sesi ini santai. Ditanya tentang diri kita sendiri. Hampir sama dengan interview psikolog. Bedanya kalau dengan Hrd lebih rileks daripada sama psikolog yang kaku. Saya saja bisa sambil ketawa-ketawa sama ibunya. So far so good.

Semoga informasi ini berguna untuk teman-teman yang sedang proses BDP. Good luck !
Posted by: caecilia
CS.Com Updated at: April 21, 2014

April 1, 2014

Psikotest BDP (BCA Development Program)

Sesuai dengan judulnya, kali ini saya mau cerita tentang pengalaman saya psikotest di BCA. Sebenarnya nih, saya tidak ada niat apply serius ke BCA. Bisa dibilang hanya iseng saja apply lewat website BCA. Dari sebuah keisengan, ternyata keesokan harinya saya mendapat panggilan psikotest hari sabtu. Cepat ya.

Sabtu pagi saya bangun subuh dan jam 5 saya sudah berangkat dari rumah dan tiba di BCA Wisma Asia jam 6:40. Kepagian karena mulai psikotestnya jam 8. Dan untungnya, peserta yang mau ikut psikotest sudah ramai. Semangatnya harus diancungi jempol.

Oia, buat yang berangkat dari Bogor, bisa naik bus dari terminal baranang siang yang jurusan Bogor - Kalideres. Nanti minta turun di Slipi Jaya. Wisma Asia ada di seberangnya slipi jaya. Jadi tinggal menyebrang saja. Pilihan kedua, bisa naik kereta api (commuter line). Dari stasiun Bogor naik yang jurusan Tanah Abang. Transit di Tanah Abang terus naik yang jurusan Serpong. Turun di Palmerah. Palmerah 1 stasiun saja dari Tanah Abang. Dari Palmerah naik Kopaja 86 minta turun di Slipi Jaya. Dekat kok. Paling 10 menitan. Saya berangkat dari rumah  di Bogor tiba di Wisma Asia perjalanannya selama 2 jam. Pulangnya ikuti jalur berangkat ya.

Sebelum psikotest dimulai, saya sempat kenalan dengan anak Binus. Namanya Margaretha, jurusan IT. Setelah ngobrol-ngobrol, ternyata anak Binus banyak yang ikut psikotest.

Setelah menunggu giliran absen dan mengumpulkan CV, mulailah kita mengerjakan soal. Terdiri dari 10 subtest. Deret, logika matematika, test gambar, kubus, hapalan, sinonim, antonim, test pauli, dan apalagi ya? Lupa, hehe. Waktu mengerjakan setiap subtest dibatasi. soalnya menurut saya mudah, hanya perlu kecepatan dan ketelitian karena waktunya terbatas dan kita tidak tahu batas waktunya itu sampai kapan. Menurut perhitungan saya, rata-rata 1 subtest yang isinya 20 soal dikasih waktu kurang lebih 10 menit. Dan hapalan cuma 6 menit. Yang paling lama itu test pauli atau test koran. Menjumlahkan sampai saya mabok. 

Selesai test pauli, kita hanya menunggu sekitar 5 menit dan langsung diumumkan siapa yang lolos ke tahap berikutnya. Ternyata selama kami mengerjakan soal, teamnya juga sambil memeriksa  jawaban. Psikolognya mulai menulis nomor peserta di papan tulis dan saya hopeless karena tidak ada nomor saya di sana. Ternyata saya salah, nomor yang ditulis di papan tulis adalah nomor peserta yang tidak lolos dan diperbolehkan pulang. Akhirnya! Horeee saya lolos psikotest.

Jangan happy dulu ya. Belum selesai dan masih lanjut ke test berikutnya. Tapi test kali ini lebih mudah. Hanya menjawab 90 soal tentang kepribadian kita. Terus gambar pohon, manusia, dan warteg test. Semuanya tidak ada batas waktunya jadi bisa sedikit lebih tenang mengerjakannya.

Jam 12 siang tibalah waktunya istirahat makan dan disiapkan oleh BCA. Seumur hidup saya psikotest, hanya di BCA yang menyediakan makan siang untuk pesertanya. Waktu makan 30 menit.

Setelah makan siang selesai, tibalah waktunya interview psikolog. Dibagi 4 kelompok. Saya peserta pertama yang di interview. Dan ini pertanyaannya sangat banyak. Tentang kuliah, kerja, tugas dan tanggung jawab, motivasi, kelebihan, kekurangan, tentang BCA itu sendiri, dan bla-bla. Semua tentang kepribadian ditanya detail dan biasanya dia menjebak kita dari jawaban kita. Soalnya saya sampai pusing tujuh keliling menjawab pertanyaan psikolognya.

Saya sudah lolos 3 tahap. Kalau seandainya lolos, ada tahap FGD, intervew hrd, interview user, dan terakhir medical check up. Panjang ya prosesnya jadi harus sabar. Katanya prosesnya ini bisa memakan waktu hingga berbulan-bulan. Yang membutuhkan kerjaan urgent, sebaiknya jangan membuang waktu kalian untuk ikut psikotest di BCA.

Tips bagi yang mau mengikuti psikotest :

1. Datang lebih awal. Kalau kalian telat nanti akan mengacaukan konsentrasi.

2. Pakaian rapi. Dandan yang cantik dan ganteng ya :D

3. Siapkan mental. Psikolognya tegas dan rada galak. Mendengarkan dia memberikan instruksi saja sudah membuat saya sport jantung. Psikotest ini akan menunjukkan apakah kita mampu bekerja di bawah tekanan atau tidak. Soal psikotestnya gampang kok. Mereka yang tidak lolos itu entah karena terlalu lambat mengerjakannya atau karena tidak fokus. 

4. Sarapan. Mengerjakan soal psikotest itu butuh konsentrasi, jadi sebaiknya fisik dalam kondisi sehat, dan perut tidak kosong supaya bisa maksimal.

5. Tidur yang cukup.

6. Cari tahu tentang BCA, kenali diri sendiri karena nantinya akan ditanya seputar tentang diri kita waktu interview, dan juga baca-baca soal psikotest supaya punya gambaran soal psikotest itu seperti apa.

7. Tips terakhir yang mau saya tekankan di sini, “KONSENTRASI”. Kalau kalian tidak konsen, soal yang harusnya bisa kalian jawab malah salah karena kalian tidak bisa fokus.

Saya tidak berharap banyak. Kalau lolos syukur, tidak lolos ya sudah. Masih banyak perusahaan lain yang menanti. *menghibur diri sendiri* hahaha

Semoga bermanfaat ya. Kalau saya lolos ke tahap berikutnya, saya pasti posting lagi. Pamit. Bye.
Posted by: caecilia
CS.Com Updated at: April 01, 2014

March 17, 2014

Tips Apply Credit Card BCA


Sudah memiliki kartu kredit dari BCA? Jika belum, saya akan berbagi pengalaman mengenai mudahnya saya mendapatkan kartu kredit dari BCA dan saya akan berbagi tips agar teman-teman yang apply bisa diterima.

Sekitar pertengahan Februari, saya bersama dengan teman-teman saya pergi ke Kota Kasablanka Mall di daerah Tebet, Jaksel. Pada saat saya mengambil uang di ATM BCA, saya ditawarkan seorang marketing yang saya lupa namanya untuk membuat kartu kredit. Sebenarnya saya malas berurusan dengan pengajuan kartu kredit yang prosesnya ribet dan lama. Itu yang membuat saya selalu menolak semua tawaran yang diajukan kepada saya. Tapi, tidak tahu karena alasan apa, saya waktu itu mau-mau saja ditawarkan dan yang saya pikirkan saat itu adalah, "Mau diterima syukur, ditolak juga enggak apa-apa."

Keesokan harinya, saya ditelpon oleh mas-mas yang menawarkan saya kemarin di Kokas. Dia meminta saya untuk mengirimkan slip gaji. Karena malas meminta slip, saya jawab begini, "Aduh mas. Jujur aja saya males minta slip gaji sama atasan saya. Gaji saya payroll via BCA kok. Bisa dicek." Akhirnya setelah saya mengatakan hal tersebut, dia oke-oke saja. Dia hanya menanyakan gaji saya ditransfer tanggal berapa.  2 hari kemudian, saya di telpon oleh pihak analisis kartu kredit BCA untuk konfirmasi data. Kemudian lanjut dengan menghubungi kakak saya sebagai kerabat yang tidak tinggal serumah, dan terakhir menelpon kantor saya. Setelah itu menghilang tak ada kabar. Ehh, tau-taunya kartu kredit saya itu di approve tanggal 8 Maret 2014 dan kartunya dikirim ke kantor tanggal 17 Maret 2014.
Posted by: caecilia
CS.Com Updated at: March 17, 2014

February 25, 2014

Death Note

I've read this comic many times and never get bored. Already since 2008 and just remembered to make a review on Goodreads. I also have already watch the movie in the human version and the anime version. I prefer the anime version because it fits with the comic. While in the human version there are some changes that I don’t like and certainly part of the cut very much. In the anime version more explained in detail.

Death Note, know right ? The book of death owned by the Shinigami. This story begins with a Shinigami named Ryuk dropped his book to the human world and is found by Light Yagami. Light is a teenage high school, smart and genius. He was handsome and the son of a Chief of Police.

NB : Anyone who touches the Death Note can see Shinigami. Ryuk likes to eat apples in the human world. Shinigami will always follow wherever the owner of the Death Note go.

How to use the Death Note ? Just write someone's name in the Death Note paper, picturing his face. Then the person will die within 40 seconds of a heart attack. But, if the written details, must be written within 6 minutes 40 seconds the details of his death. Death can be arranged in accordance with the wishes of the owner of the Death Note within a period of 23 days. But, all the details of his death would occur if that makes sense. The owner of the Death Note can make a deal with Shinigami eyes. If the owner wanted the Shinigami eyes, Death Note owner will lose half of the rest of his life. By having the eyes of a Shinigami, Death Note owners can find out the name of the person and the rest of his life just by looking at the person. But, the owner of the Death Note can not see the rest of the life of the person who also has a Death Note. The owner can release ownership of the Death Note. And the Death Note owner will lose memory of the Death Note.

Well, Light uses the Death Note to kill criminals. Light had the ambition to create a safe world, his world. He began writing the names of criminals blindly. Light started killing people who hinder him. Many people who end up dead. I thought, Light is a psychopath. Regarding the presence of Light, now people call those who kill the criminals as Kira. There are pros and cons of course .

Police began to join forces with the CIA and FBI as well as L to catch Kira. L was an intelligent and genius. L is famous as a detective who is able to solve cases that are not able to be solved by the police. However, L and Kira, never expose himself to anyone .

The more exciting when Light and L finally get into the same university. University To-oh. L introduced his name as Ryuga Hizaki or invoked Ryuzaki. Remarkably, from the beginning Ryuzaki was already suspect that if Light is Kira. They both look like each other to get information. But, Light can not kill because Ryuzaki not his real name. 

Go to another story. Misa Amane is a beautiful girl, a famous artist and childish. She's lived alone since her parents were killed by robbers and the robber was killed by Kira. Misa really wanted to meet with Kira.

One day, when Misa is being pursued by a stalker, a sudden she finds the Death Note . The owner of the Death Note was named Rem. Rem love Misa. And he is will do anything for Misa. Misa got the Eyes of Shinigami. So, if Light bring Misa to meet L , Misa will know the name of L and L will die .

Misa finally caught and accused of being the Second Kira. Misa and Kira detained by L. Misa release of her ownership of the Death Note by request of Light. After a week they were locked up, Light release its ownership of the Death Note. Misa and Light forgot their memories about the Death Note.

Within two weeks they were locked up, eventually criminals start dying again. That is, the Death Note already fallen into the hands of someone else. Until of 50 days, Misa and Kira finally freed by L. However, L is still suspicious. From here, I start like Light again. He's back to being the Light once before met Death Note. 

Light is controlling Death Note of Rem for given the bad guy. But, he is caught by L and Light. Light touch the Death Note again, and his memories about Death Note back. And that's when he realized his plan was in line with what he wants. Light asked Misa holding Death Note, and she returned her memories of the Death Note. Light asks Misa to write the name of the L in Death Note. Unfortunately, Misa have forgotten the name of the original of L. For the sake of Light, Misa transact eyes with Ryuk who is the owner of the Death Note. The age's Misa now reduced by half again from the rest of her life. I think, Misa is really stupid and reckless . 

Light changed his plans. L eventually killed by Rem on demand of Light. L died :(

Light it was really crazy. Psychopaths. He killed his father and his friends.

After the death of L, which replaces of L was Kira. But, then appears Near and Mello that also genius. They join forces to defeat the Light. And in the end, Light lost and he died when Ryuk writing Light name in his Death Note. Done. I'm satisfied. Kira DIED! 

I like this book so much and I will give 5 stars for this book. Thank you for reading my review :)
Posted by: caecilia
CS.Com Updated at: February 25, 2014

February 12, 2014

Concealer Pond's

Untuk pertama kalinya saya akan mereview tentang kosmetik dan yang akan saya pilih untuk di review adalah Concealer Pond's yang baru saja saya beli. Oia, sebenarnya saya niatnya membeli Concealer Maybeline karena saya sudah jatuh cinta sama brand yang satu ini. But, setelah keliling tidak ketemu juga dan memang susah mencarinya. Kalaupun ada pasti stock nya kosong. Sama SPG giant saya ditawarkan merk Pond's. Agak ragu sih awalnya. Setelah nimbang-nimbang, saya masukkan juga ke keranjang belanja saya. Harganya cuma 26 ribu. Jauh dibanding Maybeline yang harganya di atas 50 ribu.
Ketika tiba di rumah, saya langsung  melakukan uji coba. Dan hasilnya, jreng jreng. Bagus :) Saya suka. Bisa menyamarkan flek hitam atau kantung mata. Walaupun tidak benar-benar hilang, tapi lumayan kok hasilnya. Untuk hasil yang lebih baik harus dipoles dengan bedak yang warna kulit juga.

Concealernya berbentuk pen dan padat. Imut dan gampang di bawa ke mana-mana.

Saya kasih skor 7.5 / 10.

Tidak bisa memberikan perbandingan dengan merk lain. Soalnya ini Concealer pertama saya, hoho. Kalo ditanya apakah saya akan membeli lagi, maybe yes. Saya sudah pakai selama beberapa hari dan hasilnya oke-oke saja.

Bagi yang sedang Concealer, saya rekomendasikan untuk mencoba concelaer yang satu ini. Tapi yang namanya produk kosmetik itu beda-beda untuk masing-masing orang. Bisa saja saya cocok, tapi yang lain tidak cocok. So, jangan takut mencoba ya. Nanti kita akan tahu  kita cocok dengan produk apa saja.

Update 8 Agustus 2016 :
Sampai saat ini saya masih menggunakan concealer Ponds. So, dari sejak pertama kali saya beli (2014) sampai sekarang saya selalu membeli lagi dan lagi kalau sudah habis dan sudah tidak terhitung banyaknya concelaer ponds yang sudah saya pakai. Tidak membuat kulit saya iritasi padahal saya termasuk kulit yang sensitif. Tidak membuat wajah saya jerawatan juga. Pokoknya saya senang dengan concelaer dari Ponds. Concealernya selalu saya bawa ke manapun saya pergi dan untungnya memang bentuknya yang kecil dan praktislah buat di bawa. Dan bisa dibilang, concealer ponds ini salah satu kosmetik penting dan harus selalu ada di tas make up saya.
Posted by: caecilia
CS.Com Updated at: February 12, 2014

January 23, 2014

Surat untuk Stiletto Book

Dear Stiletto Book,

Hi all crew Stiletto (http://stilettobook.com). Selamat ulang tahun yang ketiga, ya. Wah, saya sangat senang ketika membaca twitter @Stiletto_Book mengadakan lomba menulis dengan tema, “Surat untuk Stiletto Book.” Saya nyaris jingkrak-jingkrak lho, *edisi lebay :D Bagi saya, ikut lomba ini seperti ungkapan pribahasa “Sambil Menyelam Minum Air.” Selain bisa ikut lomba ini, juga bisa menambah postingan di blog pribadi. Lumayan kalau menang hadiahnya berupa paket buku :p. Bagi penggemar Stiletto seperti saya, tentunya lomba ini akan sayang sekali jika terlewatkan.

Mengenal Stiletto berawal dari browsing mencari penerbit untuk mengirim naskah pada awal 2013 (Padahal saat itu naskahnya belum selesai ditulis, hehe). Penasaran, saya yang memang selalu ingin tahu, berhasil mengobrak-abrik websitenya Stiletto dalam sekejab. Tak lupa saya juga membaca syarat pengiriman naskah. 

Kesan pertama saya, Stiletto itu penerbit yang unik dan berbeda dari penerbit yang lainnya. Kenapa? Karena Stiletto mendedikasikan diri menerbitkan buku-buku fiksi maupun nonfiksi yang berkaitan dengan dunia perempuan. “Strong women wear their pain like stilettos, no matter how much it hurts, all you see is the beauty of it.” 

So, if you write about the world of women, send your manuscript to stiletto!

Kenapa saya memilih Stilleto? Yang pertama adalah karena lebih efektif dan efisien. langkah pertama yang harus saya lakukan adalah hanya mengirimkan softcopy 30 halaman pertama via email. Setahu saya belum ada penerbit yang memberlakukan standar yang seperti ini. Selain itu, buku terbitan Stiletto juga bisa ditemukan di toko buku di seluruh Indonesia. Jadi, saya sama sekali tidak ragu untuk mengirimkan naskah saya pada Stiletto. Semoga nanti naskah saya berjodoh denganmu, ya. Amin.

Alasan lain kenapa harus Stiletto? Saya sangat suka dengan design cover-nya. It’s a beautiful cover. Good job buat Designer Graphic Stiletto. Ditambah dengan harga buku yang terbilang murah bila dibandingkan dengan penerbit lain. Harga yang lebih murah dengan kualitas yang oke, why not? 

Buku Stiletto yang paling berkesan buat saya adalah A Cup Of Tea For Writer karyanya Triani Retno A & Herlina P Dewi, dkk. Buku ini recommended buat dibaca. Terutama bagi penulis pemula. Setelah membaca buku ini sukses membuat saya tidak bisa berhenti menulis hingga detik ini. Buku ini menjadi semangat buat saya untuk terus berkarya. This is my favorite book. Ditambah dengan cover yang cantik dan isi yang berkualitas. Saya layak memberikan dua jempol bagi penulis dan juga tim Stiletto karena sudah menerbitkan buku bagus seperti ini. 

Saran untuk Stiletto adalah sering-sering mengadakan kuis di media sosial, lomba menulis naskah fiksi/nonfiksi, dan berbagai event lainnya. Dengan melakukan berbagai kegiatan menarik, tentunya akan membuat nama Stiletto semakin dikenal kalangan penulis dan pencinta buku. Saya berharap Stiletto bisa mengadakan lomba kreatif yang berbeda dengan lomba biasanya. Dan semoga event yang diadakan tidak hanya di kota tertentu. Tapi menjangkau ke seluruh pelosok Tanah Air. Semoga :)

Saya percaya, Stiletto ke depannya pasti akan bertumbuh pesat. Dengan umur Stiletto yang baru menginjak 3 tahun dan terbilang masih baru sudah mempunyai hati tersendiri di hati para pembaca, terutama saya sendiri. Saya salut dan memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas kerja keras Stiletto selama ini. Untuk ke depannya, Stiletto harus berjuang lebih keras lagi sehingga bisa menjadi penerbit unggul di Indonesia. 

Sekian surat cinta dari saya untukmu. Wah, panjang juga nih. Kalau saja tidak dibatasi kurang lebih 600 kata, mungkin saya bisa menulis berlembar-lembar :p. Keep fighting Stiletto!

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba menulis surat untuk Stiletto :)
Posted by: caecilia
CS.Com Updated at: January 23, 2014

January 13, 2014

Test Alergi

Siapa di sini yang punya bakat alergi? Ada? "TOS" kita senasib. Alergi saya ini mulai muncul sejak saya pindah ke Bogor, padahal dari lahir sampai saya lulus SMA masih fine-fine saja. Menurut dugaan saya adalah faktor perbedaan cuaca yang ekstrim dan juga faktor lingkungan yang membuat saya alergi seperti ini. Di kampung halaman saya itu panas dan tidak ada polusi. Setibanya di Bogor, tubuh saya kaget dengan perubahan suhu. Apalagi debu di daerah perkotaan itu cukup parah. Daya tahan tubuh orang yang punya bakat alergi memang rendah. Saya mulai mengganti sabun mandi saya dari yang sabun cair menjadi sabun batangan. Puji Tuhan alerginya hilang sendiri setelah saya mulai beradaptasi dengan lingkungan sekitar.

Setelah 1 tahun di Bogor, tubuh saya mulai bertingkah lagi. Ketika saya berlibur ke kampung halaman, saya malah alergi dan makin parah. Saya yang sudah terbiasa dengan suhu adem di Bogor, kaget lagi setelah kembali ke kampung halaman yang panas. Tidak tahu harus bagaimana lagi, akhirnya saya pergi ke 2 dokter sekaligus dan Puji Tuhan membaik. 

Kemudian, saya pindah kerja di Tangerang tahun 2012. Tubuh saya yang memang super sensitif mulai bereaksi lagi. Tangerang itu panas dan karena tidak terbiasa, saya kumat lagi. Kali ini juga cukup parah hingga membuat saya tidak bisa tidur dan sangat mengganggu aktivitas saya sehari-hari. Akhirnya saya searching cari dokter kulit yang bagus. Setelah searching, saya mendapatkan satu nama yaitu Dr. Ko King spesialis kulit. Kebetulan, dokternya juga praktek di Klinik Kimia Farma Bogor.

Setelah pembicaraan singkat, dokter bilang gatal-gatal saya itu karena faktor lingkungan seperti yang sudah saya perkirakan. Biaya dokter di tahun 2012 masih 150 ribu. Dan obatnya 300 ribu. Setelah saya mengkonsumsi obatnya, saya merasakan perubahan yang luar biasa. Keesokan harinya bisa dibilang saya sudah merasa sembuh dan gatal-gatalnya sudah hilang. Dokternya sudah tua dan mungkin umurnya sudah 70 puluh lebih. Tapi beliau masih terlihat sehat bugar.  

Singkat cerita, alergi saya tidak pernah kambuh lagi semenjak itu. Saya hanya rutin membeli cream alerginya dengan resep yang sama dari dokternya. Jadi kalau saya merasa gatal saya olesi creamnya dan setelah itu sembuh. Sebenarnya saya itu tidak pernah merasa benar-benar sehat. Cream anti alergi saya itu seperti makanan yang wajib saya miliki setiap saat. Dan wajib dibawa ke manapun saya pergi.

Baru-baru ini saya pindah kostan karena saya pindah kerja ke BSD City. Tidak perlu kalian tanya, alergi saya kumat lagi dan parah lagi. Dan saya trauma pindah kostan lagi. Singkat cerita saya sudah ke century, kimia farma BSD, dan Rumah Sakit BMC dan hasilnya nihil. Tidak efek apa-apa. Dokternya hanya bisa mendengarkan saya curhat.

Akhirnya, saya kembali searching lagi dokter kulit yang bagus selain dokter Ko. Saya mendapatkan satu nama lagi. Prof. DR. dr. Adhi Juanda, SpKK. Dokternya sudah tua juga dan adalah seorang guru besar di UI.

Tanpa pikir panjang lagi, saya langsung konsul ke dokter itu. Dokternya tidak terlalu sehat mungkin karena sudah tua dan dia menggunakan alat bantu dengar. Jadi kalau mau bicara sama dokternya harus teriak-teriak. Tapi untungnya ada asistennya yang membantu menerjemahkan pembicaraan.

Dokternya nanya, “Kamu stres, ya?”

Setiap kali berobat semua dokter selalu bertanya seperti itu T.T.

“Iya. Saya stres, dok. Saya stres karena alergi saya enggak sembuh-sembuh dari dulu.” 

Dokternya mengangguk-nganguk tanda mengerti. Lalu dia memberi resep obat sebanyak dua macam. Satu botol cream dan kapsul obat selama 5 hari. Hanya 177 ribu. Biaya dokter 200 ribu. Murah. Dan saya diberikan surat pengantar untuk melakukan test alergi seminggu kemudian di anaknya dr. Dani Djuanda, Sp. KK yang tidak jauh dari tempat praktek dr. Adhi.

Perubahan sehari setelah saya minum obatnya juga sudah terasa. Sekarang saya percaya, dokter yang sudah tua dan punya jam terbang lebih banyak pasti lebih menjamin. Tapi, kalaupun disuruh memilih, saya tetap memilih dr. Adhi.
Alergi itu katanya tidak akan sembuh tapi bisa dihindari. Bersyukurlah buat yang punya kulit normal karena kalian tidak akan pernah mengerti stresnya orang yang punya penyakit alergi. Berdasarkan penelitian para ahli yang saya baca di google, dari 1000 orang, hanya ada 2 orang yang terkena penyakit ini. Dan saya termasuk ke dalam 2 orang ini. Enjoy :)
Posted by: caecilia
CS.Com Updated at: January 13, 2014

January 10, 2014

Pembengkakan Kelenjar Thyroid

Tulisan ini sudah cukup lama saya publish di blog saya di wordpress yang sejujurnya tulisan itu sangat laris manis dikunjungi :) So, karena saya pikir tulisan ini akan sangat bermanfaat, saya akan tulis kembali atau bisa dikatakan copy paste dari blog saya sendiri.

Kelenjar thyroid adalah pembengkakan kelenjar yang berupa benjolan di depan leher, letaknya di antara lobus kanan dan kiri. Biasanya ditandai dengan ikut dalam proses menelan. Jadi, kalo kita menelan, benjolannya akan naik turun. Kelenjar ini menghasilkan hormon thyroid yang berfungsi mengendalikan kecepatan metabolisme (fungsi kimia) tubuh. Adanya benjolan bisa juga karena adanya kanker kelenjar getah bening yang ditandai dengan tidak ikut dalam proses menelan. Biasanya hanya terdapat pada lobus kanan saja atau kiri saja. Dan biasanya dicurigai sebagai kanker ganas. Ciri-cirinya yaitu terdapat pembengkakan atau adanya benjolan disekitar ketiak dan pangkal paha. Tapi tidak semua jenis benjolan adalah kanker ataupun kelenjar thyroid. Bisa saja hanya benjolan biasa yang timbul karena sedang sakit atau panas dalam dan bisa hilang dengan sendirinya. Nah, yang harus di waspadai adalah benjolan yang permanen dan tidak hilang sejak bertahun-tahun. Benjolan di leher bisa juga karena adanya tumor. Tergantung dengan jenis keluhannya.

Saya pernah bermasalah dengan Kelenjar Thyroid. Diagnosis dari dokter waktu itu saya terkena Hyperthyroid. Ceritanya berawal dari ketika saya masih duduk di bangku sekolah awal tahun 2007. Sebenarnya saya tidak pernah memperhatikan leher saya juga, jadi tidak pernah tahu kalau ada benjolan di leher saya.

Waktu itu saya sedang di Gereja menunggu mama jemput selesai misa. Terus ada teman yang lewat dan tiba-tiba berhenti dan berkata seperti ini, "Coba kamu nelen." Dengan heran saya pun mengikuti kemauan teman saya tersebut. Setelah memperhatikan leher saya sejenak, dia mengatakan kalau di leher saya ada benjolannya. Dia menambahkan kalau saya itu harus segera diperiksa. Katanya, anak perempuannya juga pernah ada benjolan di leher dan sudah dioperasi di Jakarta. Bagaikan petir disiang bolong, saya sontak langsung terkejut mendengar pengakuan teman saya tersebut yang serba dadakan. Saya yang beberapa detik yang lalu masih berpikir saya sehat-sehat saja, ternyata saya itu sudah cukup gawat dan harus di operasi? Ya Tuhan. Seumur hidup saya tidak pernah terpikirkan oleh saya kalau saya harus di operasi.

Setibanya di rumah saya langsung ambil cermin dan mulai meneliti leher saya. Setelah saya cermati, memang benar ada benjolan yang tak begitu kasat mata. Dan benjolan itu terlihat jelas ketika saya menelan. Saya langsung down dan pikiran saya mulai tidak karuan. Takut ini takut itu. Tapi ketakutan saya yang sebenarnya adalah harus memberitahu keluarga saya dan tentu saja keluarga saya shock terutama papa. Karena stres, saya sampai sakit. Nafsu makan hilang dan saya mulai demam. Apalagi seluruh anggota keluarga terlihat sedih mendengar kabar kalau ada benjolan di leher saya. Mungkin mereka menduga itu kanker dan saya pun awalnya sempat mengira demikian.

Saya dibawa ke dokter spesialis THT. Tapi dokternya sangat menjengkelkan dan berkata seperti ini. "Ini mah cuma kelenjar biasa yang bakal muncul kalo lagi haid. Anak sehat kok dibawa ke dokter." Dokter itu sama sekali tidak memeriksa saya. Dia hanya melihat sekilas dan pegang saya saja tidak.

Akhirnya pulanglah saya ke rumah. Mungkin mama papa sudah lega, tapi saya sama sekali tidak lega dan tidak puas dengan penjelasan dokternya. Karena saya tidak mau membuat mama papa khawatir, saya berusaha melupakan tentang benjolan ini walaupun sebenarnya benjolan itu tidak pernah hilang dan juga tidak ada keluhan apa-apa. 

Sampai akhir tahun 2009 (saya sudah setahun tinggal di Bogor), benjolan saya mulai bereaksi. Saya merasakan benjolan saya membengkak saat saya sedang kuliah dan sedang mendengarkan penjelasan dosen di kelas. Saya merasa ada sesuatu yang mengganjal. Waktu jam kuliah selesai, teman saya bilang, "Kok leher lu ada benjolan sih?" Saya langsung panik dan pinjam kaca. Ternyata benar. Benjolan saya 3 tahun yang lalu itu akhirnya membesar. Teman menyuruh saya check up dan keesokan harinya saya meluncur ke Rumah Sakit BMC (Bogor Medical Center) yang katanya RS paling bagus dan paling mahal di Bogor saat itu. Saya daftar ke dokter THT lagi dan masih bingung mau pergi ke dokter apa.

Dokternya bilang kalau benjolan saya itu Kelenjar Thyroid dan harus dioperasi secepatnya. Kaget, bingung, stres semuanya campur aduk jadi satu. Dan menurut saya dokter itu sangat tidak punya hati nurani dengan menakut-nakuti saya. "Enggak ada jalan lain selain operasi. Sebelum makin besar, sebaiknya dioperasi secepatnya." Saat itu juga saya dirujuk ke dokter bedah dan bodohnya saya nurut-nurut saja. Mungkin karena sedang linglung dan tidak bisa berpikir jernih.

Dokter bedahnya hanya menekan leher saja sebentar dan langsung bilang kalau saya harus dioperasi tanpa melakukan usg terlebih dahulu. Dan dia juga mengancam saya kalau saya tidak segera dioperasi, mata saya akan melotot dan mumpung tekanan darah saya masih normal. Kalau sudah melotot nanti matanya sudah tidak bisa diapa-apakan lagi. Begitulah kurang lebih ancaman dokternya. Tanpa meminta persetujuan saya terlebih dahulu, dokter itu langsung membuat berbagai surat laboratoriun untuk rontgen dan lain-lain dan dia minta saya untuk bertanya ke bagian administrasi mengenai biayanya. 

Karena operasi saya itu termasuk ke dalam operasi besar khusus, biayanya lebih wow. Untuk tahun 2009, biaya kelas 3 adalah 11 juta sudah termasuk obat dan rawat inap 5 hari. Kalau ada penambahan obat dan rawat inap akan tambah lagi biayanya. Waktu itu saya hanya sekedar mau tahu saja dan saya juga belum mengambil keputusan untuk dioperasi.

Nah, tibalah saatnya memberi tahu keluarga. Ya kali ini lebih shock pasti. Soalnya benjolan yang sudah terlupakan akhirnya menampakkan diri lagi. Papa yang paling shock apalagi kalau tahu saya harus dioperasi.

Papa mau saya di rontgen biar jelas itu benjolannya apa. Mungkin papa mengira itu kanker kali ya. Nah, buat menenangkan papa, saya rontgen berbekal surat rontgen dari dokter bedah tadi. Ternyata apa yang terjadi? Itu rontgennya buat jantung dong persiapan buat operasi. Itu dokternya geblek masa dia tidak menjelaskan kepada saya kalau itu rontgen jantung buat persiapan operasi. Padahal saya sama sekali belum setuju akan tindakan operasi. Saya protes di ruangan radiologi kenapa yang di rontgen itu jantung bukan leher. Katanya kalau saya mau rontgen di leher, saya harus minta surat pengantar lagi dari dokternya. Akhirnya saya pulang dan tidak jadi rontgen leher dan rontgen jantung saya pun tidak saya bayar karena buat apa bayar hasil rontgen yang saya tidak butuhkan. 

Seminggu kemudian saya mendapat rekomendasi dari teman seorang dokter internist. Di rumah sakit yang sama, namanya dr. Agus Taolin, Sp. D (Spesialis Penyakit Dalam).

Beberapa hari kemudian, saya pergi konsul sama dokternya. Dan akhirnya setelah pergi ke 3 dokter spesialis, baru dia yang melakukan USG di leher. Dia bilang ada cairan kista di leher dan harus disedot menggunakan jarum. Shock? IYA. Bayangkan saja jarum suntik yang ukurannya beberapa kali lipat besarnya dari jarum suntik biasa akan dimasukkan ke leher saya. Pasrah, saya memejamkan mata selama dokter melakukan ritual persiapan memasukkan jarumnya. Dokternya juga mengingatkan saya untuk tidak menelan ludah selama dia menyedot cairannya, dan juga tidak boleh mengerakkan leher. Tidak lama kemudian, akhirnya selesai. Dan ternyata tidak sakit karena benjolan di leher saya saat itu lumayan besar. Jadi waktu dimasukkan ke leher saya tidak terkena dagingnya. Tapi tetap saja masih terasa waktu dokternya memasukkan jarumnya.

Dokternya memperlihatkan isi dari cairan yang telah berhasil dikeluarkan. Satu botol penuh jarum suntiknya dan isinya cokelat kehitam-hitaman. Dan leher saya langsung mengecil lagi, tapi masih ada benjolannya. Kata dokternya penyakit saya ini tidak bahaya dan dia juga bilang kalau sama dokter lain saya pasti langsung disuruh operasi. That's right. Itulah yang terjadi. Plus ditakut-takuti oleh dua dokter sebelumnya. Suster yang menangani saya di ruang dr. Agus juga sama dengan yang waktu saya dengan dokter bedah. Setelah saya mau keluar ruangan, si suster bilang gini, "Untung kamu enggak di operasi kemaren." Saya senyum dan mengucapkan terima kasih sama susternya.  Kesimpulan saya adalah dua dokter yang menangani saya waktu itu materialistis dan money oriented. Orang yang seperti itu tidak peduli dengan pasiennya dan hanya mementingkan dirinya sendiri. So, hati-hati ya guys. Kalau sakit harus cari dokter yang tepat.

Tidak cukup hanya sekali sedot. Saya harus bolak-balik check up. Saya dikasih obat yang harus diminum selama 2 bulan. Untuk check up awalnya seminggu sekali, terus dua minggu sekali dan sampai akhirnya sebulan sekali. Setiap kali check up saya di USG dan disedot cairannya selama cairan itu masih ada. Nah, untuk penyedotan kedua, ketiga, dst itu terasa sakitnya. Kadang sampai keluar darah. Semakin kecil benjolannya dan akan semakin sakit waktu disedot.

Enam bulan saya berobat sama dokter Agus dan sampai terakhir kali saya berobat sama dia katanya saya sudah sembuh dan cairan di leher saya sudah tidak ada. Tapi, dia tetap mengingatkan saya untuk terus check up ke dia sebulan sekali.

Karena saya itu bandel (jangan ditiru ya, hehe), saya tidak pernah check up lagi semenjak dokter bilang saya sudah sembuh. Kadang saya merasa benjolan di leher saya itu masih ada walaupun kecil. Tapi sepertinya sih tidak apa-apa. Toh sampai sejauh ini tidak ada keluhan dan saya beraktivitas normal seperti biasa.
Posted by: caecilia
CS.Com Updated at: January 10, 2014

December 23, 2013

Tradisi Tionghoa Makan Onde

Tanggal 22 Desember itu selain dikenal dengan Hari Ibu juga ada tradisi Tionghoa merayakan hari festival Dongzhi yang berarti Musim Dingin Yang Ekstrem. Kalau saya dan keluarga biasanya menyebutnya "Syak Yen" atau "Onde" di Indonesia.

Jujur saja saya baru mengetahui makna dari makan onde ini. Kalau di kampung halaman saya, tradisinya masih terasa cukup kental. Setiap rumah dan setiap keluarga Tionghoa pasti mengikuti tradisi ini. Termasuk mama. Mama juga selalu membuat dan moment ini selalu dinanti-nantikan sama kita semua. Saya membuat onde bersama Mama, cece, dede, dan keponakan di hari H-1 biasanya. Dan saya sangat merindukan moment itu.

Semenjak saya pindah ke Bogor pada Juni 2008, yah semenjak itu tidak pernah membuat Onde lagi, tapi kadang-kadang masih makan buatan tante. Kalau dibandingkan dengan di sini, masyarakat Tionghoa di sini sudah banyak yang meninggalkan tradisi ini. Lama-lama mungkin akan hilang tanpa jejak. Dan saya bersyukur di tempat kelahiran saya masih mengikuti tradisi ini. Setidaknya masih ada yang meneruskan. 

Oia, saya juga baru mengetahui bahwa Onde harus di makan sesuai dengan jumlah umur. Sebenarnya saya juga baru mendengar tentang hal ini. Entah memanh harus seperti itu atau hanya mitos. Selama ini Mama tidak pernah mengatakan demikian. Saya dan keluarga biasanya menyantap onde sesuai keinginan.

Onde terbuat dari tepung ketan yang bentuknya bulat-bulat seperti kelereng. Mama biasanya menyajikannya dalam kuah santan atau kuah jahe. Karena saya tidak menyukai Jahe, Mama selalu membuatnya dengan kuah santan.
Secara tradisi, makan onde itu seperti reuni keluarga besar pada musim dingin di Tiongkok. Mungkin ini juga sebabnya peringatan makan onde ini jatuh pada musim hujan di Indonesia (22 Desember). Kebersamaan atau reuni keluarga ini dilambangkan dengan bulat. Oleh sebab itu, onde yang kita makan bentuknya bulat. 

Kalo menurut legenda, ada cerita tentang seorang gadis bernama Yuanxiao. Untuk lebih lengkapnya bisa di searching saja di mbah google. Banyak kok yang menulis tentang ini. Dari saya cukup sekian saja ya ulasan singkatnya tentang Onde.

Selamat Hari Dongzhi :)
Posted by: caecilia
CS.Com Updated at: December 23, 2013
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...